Idul Adha 2026

IDI Lampung Ungkap Tips Aman Konsumsi Daging Momen Hari Raya Idul Adha

Ketua IDI Provinsi Lampung, dr. Josi Harnos, mengingatkan bahwa kunci utama keamanan daging kurban adalah memastikan hewan sehat.

Tayang:
Dokumentasi Warga
DAGING KURBAN: Foto ilustrasi, petugas sedang memotong daging kurban. IDI Lampung beri tips aman konsumsi daging kurban momen Hari Raya Idul Adha 2026. 

Ringkasan Berita:
  • IDI Lampung ungkap tips aman mengonsumsi daging momen Hari Raya Idul Adha 2026.
  • Ketua IDI dr. Josi Harnos, mengingatkan bahwa kunci utama keamanan daging kurban.
  • Adalah memastikan hewan dalam kondisi sehat, serta melakukan proses pengolahan dengan tepat. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Lampung mengungkapkan tips aman mengonsumsi daging momen Hari Raya Idul Adha 2026.

Ketua IDI Provinsi Lampung, dr. Josi Harnos, mengingatkan bahwa kunci utama keamanan daging kurban adalah memastikan hewan dalam kondisi sehat. Serta melakukan proses pengolahan dengan tepat.

Ia memaparkan, setiap makhluk hidup secara alami tidak pernah luput dari keberadaan mikroorganisme di dalam tubuhnya.

"Sebenarnya tidak ada makhluk hidup yang tidak membawa virus atau bakteri, karena keberadaan parasit, bakteri, maupun kuman pada hewan termasuk hewan kurban merupakan hal yang relatif alami terjadi," ujar dr. Josi Harnos, Rabu (20/5/2026).

Oleh karena itu, ia menyebut faktor penentu aman atau tidaknya bahan pangan tersebut sangat bergantung pada bagaimana masyarakat memprosesnya.

Baca juga: Jelang Idul Adha, Hewan Kurban di Bandar Lampung Telah Divaksin, Kandang Ditempel Stiker

"Dalam pengolahan bahan makanan (hewan kurban), ini bisa menjadi bahaya, artinya jika dalam proses pengolahannya tidak dilakukan dengan benar," ujarnya.

Masyarakat diminta untuk memahami karakteristik dari masing-masing jenis mikroorganisme, seperti virus dan bakteri.

Ia mencontohkan bahwa virus memiliki sifat penuaan alami atau dikenal dalam istilah medis sebagai self-limiting disease.

"Kalau virus itu kan sifatnya kan self-limiting disease, jadi dia ada batas usianya untuk bisa hidup di dunia ini. Umumnya virus dan bakteri pada umumnya akan mati jika terpapar suhu panas yang tinggi," jelasnya.

Ia menegaskan pentingnya memastikan suhu masakan berada pada titik didih yang optimal selama proses pelunakan daging.

"Pada derajat tertentu, seperti misalnya nih, direbus dalam air yang memang kondisinya 100 derajat Celcius, dia akan mati," tambahnya.

Hal yang sama juga berlaku untuk jenis mikroorganisme lain seperti parasit yang kerap menempel pada daging hewan.

Melalui pendekatan tersebut, Josi menekankan bahwa proses pengolahan memegang peranan yang jauh lebih krusial.

Masyarakat diminta memastikan seluruh hidangan berbahan dasar daging dimasak hingga benar-benar matang sebelum disajikan.

"Pastikan bahwa kita sudah memproses mengolah itu dengan kondisi yang sudah benar-benar matang, bukan setengah matang," tegas dr. Josi.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved