Idul Adha 2026
IDI Lampung Ungkap Tips Aman Konsumsi Daging Momen Hari Raya Idul Adha
Ketua IDI Provinsi Lampung, dr. Josi Harnos, mengingatkan bahwa kunci utama keamanan daging kurban adalah memastikan hewan sehat.
Penulis: Hurri Agusto | Editor: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Di samping itu, ia juga menyebut bahea sistem penyaringan dan penjaringan hewan kurban harus dilakukan dengan ketat sebelum disembelih dan dikonsumsi masyarakat.
Ia menyebut, sejauh ini proses penjaringan dan penyaringan hewan kurban di tengah masyarakat sudah cukup baik.
Namun, ia mengatakan bahwa status hewan yang dinyatakan sehat secara administratif bukan berarti dagingnya bersih total dari mikroorganisme.
"Sehat dalam arti kata bukan tidak ada penyakit sama sekali, bukan tidak ada parasit, virus atau bakteri sama sekali," tuturnya.
Kontak antar makhluk hidup serta paparan udara bebas membuat keberadaan kuman pada tubuh hewan menjadi hal yang tidak bisa dihindari.
Oleh karena itu, langkah preventif pertama yang wajib dilakukan sebelum memasak adalah membersihkan daging di bawah air mengalir, hingga memastikan pengolahan daging menggunakan suhu di atas 100 derajat Celcius.
Disinggung mengenai dampak terhadap tubuh bagi yang mengonsumsi daging terpapar penyakit, Josi menyebut bahwa reaksi tubuh setiap orang akan berbeda-beda.
Menurutnya, tingkat keparahan gangguan kesehatan akibat mengonsumsi daging sangat dipengaruhi oleh kualitas imunitas individu.
"Dampak itu tergantung manusianya, jadi tidak bisa dipukul rata. Faktor kondisi fisik, usia, serta riwayat penyakit bawaan dari konsumen menjadi variabel penentu yang sangat penting," kata dia.
"Contoh, kalaupun ada tulisan tertera Sate kambing sehat, tapi yang konsumsi ada pada orang-orang dengan usia 60 tahun dengan riwayat penyakit jantung koroner, maka itu akan berdampak sangat bahaya," jelasnya.
IDI Bandar Lampung meminta masyarakat untuk menggunakan akal sehat dan menjaga porsi makan agar tidak timbul masalah baru.
Masalah kesehatan yang muncul pasca-lebaran sering kali bukan disebabkan oleh virus hewan, melainkan karena kambuhnya penyakit degeneratif.
"Jadi masalahnya bukan hanya dari parasitnya, bakteri atau virusnya. Jangan sampai kita kena serangan stroke gara-gara kolesterolnya naik karena (mengonsumsi daging) berlebih," ungkapnya.
Lebih lanjut, Josi mengingatkan masyarakat agar menjadi konsumen yang cerdas dengan mengenali batasan dan toleransi tubuh masing-masing.
Menurutnya, tanggung jawab terbesar untuk menjaga kesehatan bukan pada pedagang ataupun panitia kurban, melainkan di tangan konsumen itu sendiri.
"Semua ajaran agama selalu melarang tindakan yang melewati batas wajar, dan berlebihan, termasuk dalam mengonsumsi daging kurban," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)
| Dinas Pertanian Bandar Lampung Melabeli Kandang yang Ternaknya Sudah Diperiksa Tim Keswan |
|
|---|
| Jelang Idul Adha, Hewan Kurban di Bandar Lampung Telah Divaksin, Kandang Ditempel Stiker |
|
|---|
| DPRD Lampung Minta Hewan Kurban Diperiksa Sebelum dan Setelah Masuk Lapak Penjualan |
|
|---|
| H-7 Idul Adha, Disnakkeswan Lampung Mulai Periksa Lapak Hewan Kurban |
|
|---|
| Sapi Kurban Presiden Dibeli Rp118 Juta, Pemilik Sinau Farm Metro Mengaku Bangga |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Pengakuan-Mengejutkan-Bos-Tarmin-yang-Minta-Bayaran-Rp-15-Ribu-Tebus-Daging-Kurban.jpg)