Idul Adha 2026

IDI Lampung Ungkap Tips Aman Konsumsi Daging Momen Hari Raya Idul Adha

Ketua IDI Provinsi Lampung, dr. Josi Harnos, mengingatkan bahwa kunci utama keamanan daging kurban adalah memastikan hewan sehat.

Tayang:
Dokumentasi Warga
DAGING KURBAN: Foto ilustrasi, petugas sedang memotong daging kurban. IDI Lampung beri tips aman konsumsi daging kurban momen Hari Raya Idul Adha 2026. 

Di samping itu, ia juga menyebut bahea sistem penyaringan dan penjaringan hewan kurban harus dilakukan dengan ketat sebelum disembelih dan dikonsumsi masyarakat.

Ia menyebut, sejauh ini proses penjaringan dan penyaringan hewan kurban di tengah masyarakat sudah cukup baik. 

Namun, ia mengatakan bahwa status hewan yang dinyatakan sehat secara administratif bukan berarti dagingnya bersih total dari mikroorganisme.

"Sehat dalam arti kata bukan tidak ada penyakit sama sekali, bukan tidak ada parasit, virus atau bakteri sama sekali," tuturnya.

Kontak antar makhluk hidup serta paparan udara bebas membuat keberadaan kuman pada tubuh hewan menjadi hal yang tidak bisa dihindari.

Oleh karena itu, langkah preventif pertama yang wajib dilakukan sebelum memasak adalah membersihkan daging di bawah air mengalir, hingga memastikan pengolahan daging menggunakan suhu di atas 100 derajat Celcius.

Disinggung mengenai dampak terhadap tubuh bagi yang mengonsumsi daging terpapar penyakit, Josi menyebut bahwa reaksi tubuh setiap orang akan berbeda-beda.

Menurutnya, tingkat keparahan gangguan kesehatan akibat mengonsumsi daging sangat dipengaruhi oleh kualitas imunitas individu.

"Dampak itu tergantung manusianya, jadi tidak bisa dipukul rata. Faktor kondisi fisik, usia, serta riwayat penyakit bawaan dari konsumen menjadi variabel penentu yang sangat penting," kata dia.

"Contoh, kalaupun ada tulisan tertera Sate kambing sehat, tapi yang konsumsi ada pada orang-orang dengan usia 60 tahun dengan riwayat penyakit jantung koroner, maka itu akan berdampak sangat bahaya," jelasnya.

IDI Bandar Lampung meminta masyarakat untuk menggunakan akal sehat dan menjaga porsi makan agar tidak timbul masalah baru.

Masalah kesehatan yang muncul pasca-lebaran sering kali bukan disebabkan oleh virus hewan, melainkan karena kambuhnya penyakit degeneratif.

"Jadi masalahnya bukan hanya dari parasitnya, bakteri atau virusnya. Jangan sampai kita kena serangan stroke gara-gara kolesterolnya naik karena (mengonsumsi daging) berlebih," ungkapnya.

Lebih lanjut, Josi mengingatkan masyarakat agar menjadi konsumen yang cerdas dengan mengenali batasan dan toleransi tubuh masing-masing.

Menurutnya, tanggung jawab terbesar untuk menjaga kesehatan bukan pada pedagang ataupun panitia kurban, melainkan di tangan konsumen itu sendiri.

"Semua ajaran agama selalu melarang tindakan yang melewati batas wajar, dan berlebihan, termasuk dalam mengonsumsi daging kurban," pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved