Penembakan di Kota Metro

Wabup Lampung Utara Minta Maaf, Penembakan di Metro Timbulkan Keresahan 

Wakil Bupati Lampung Utara, Romli, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan kepolisian atas peristiwa penembakan di Metro

Tayang:
Penulis: Bayu Saputra | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra
SERAHKAN TERSANGKA - Wakil Bupati Lampung Utara Romli (kanan) bersama ayah pelaku saat menyerahkan F beserta senjata api yang digunakan dalam penembakan kepada pihak kepolisian di Mapolres Lampung Utara, Minggu (24/5/2026). (Dok. Polres Lampung Utara) 

Di tengah keributan, pelaku tiba-tiba mengeluarkan pistol dan melepaskan tembakan ke arah korban.

Setelah korban roboh, warga yang berada di lokasi langsung berusaha mengejar dan menangkap pelaku.

Namun pelaku justru melepaskan satu tembakan ke udara untuk membubarkan massa.

“Karena orang-orang mau nangkap, dia kasih peringatan biar enggak mendekat,” ujar Iqdam.

Tembakan tersebut membuat warga mundur karena takut menjadi sasaran berikutnya. Pelaku lalu memanfaatkan situasi untuk melarikan diri.

Korban sempat dievakuasi warga menggunakan mobil yang melintas karena ambulans tak kunjung datang. Namun nyawanya tidak tertolong.

Trauma Mendalam 

Peristiwa penembakan yang menewaskan Dedi Kristian Agung (40) di Ganjar Asri, Metro Barat, bukan hanya menyisakan duka, tetapi juga trauma mendalam bagi keluarga korban. 

Sang istri, Vita Lestari, harus menyaksikan langsung suaminya ditembak di depan kedua anak mereka yang masih berusia 7 dan 3 tahun.

Insiden itu terjadi saat Dedi menemani istrinya berjualan ayam geprek. Menurut Vita, awalnya pelaku datang seperti hendak berbicara biasa sebelum cekcok berubah menjadi perkelahian.

Situasi mendadak berubah mencekam ketika pelaku mengeluarkan pistol dari tas selempangnya dan menembak korban hingga tersungkur.

Anak-anak korban disebut berada tidak jauh dari lokasi saat kejadian berlangsung.

“Suami saya langsung jatuh setelah ditembak,” ujar Vita dengan suara bergetar, Minggu (24/5/2026).

Vita menduga pelaku memang telah merencanakan aksinya. Sebab, menurutnya, pelaku sebelumnya kerap melontarkan ancaman kepada korban terkait persoalan utang piutang.

Kini, setelah kehilangan tulang punggung keluarga, Vita berharap proses hukum berjalan transparan tanpa intervensi pihak mana pun.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved