Tribun Bandar Lampung

Akibat Mahalnya Harga Tiket Pesawat, Ada Usaha Tour and Travel di Bandar Lampung 'Puasa' Jual Tiket

Harga tiket yang meroket membuat agen tour and travel sepi di Lampung sepi pemesan.

Akibat Mahalnya Harga Tiket Pesawat, Ada Usaha Tour and Travel di Bandar Lampung 'Puasa' Jual Tiket
tribun lampung/okta
Ilustrasi - Aryo Tour and Travel keluhkan mahalnya tiket pesawat dosmetik yang sebabkan pembelian tiket turun. 

Laporan Reporter Tribun Lampung Sulis Setia

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Harga tiket yang meroket membuat agen tour and travel sepi di Lampung sepi pemesan.

Kondisi ini membuat penjualan tiket menurun drastis hingga sama sekali tidak ada pemesan.  

Manajer PT Aryo Putra Mandiri (Aryo Tour and Travel) Mujiono mengatakan, penurunan pembelian tiket bahkan hingga 50 persen.
Itu terjadi sejak diberlakukannya harga tiket baru.
"Kalau dalam sehari biasanya ada 10 orang yang pesan tiket, ini paling banyak 5 orang. Penurunanya bahkan kadang bisa 50 persen lebih," keluh Mujiono. 
Dia sendiri secara pribadi merasa enggan untuk membeli tiket pesawat akibat kenaikan harga ini.
Menurutnya, kenaikan harga tiket maskapai Lion Air dan Sriwijaya Air ini akibat akuisisi maskapai Sriwijaya Air ke manajemen Garuda. 
Sebelum Sriwijaya diambil alih manajemennya oleh Garuda, terusnya, semisal harga tiket Garuda Jakarta-Lampung Rp 400 ribu sampai Rp 450ribu, Sriwijaya bisa Rp 280ribu - Rp325ribu.
Lion bisa Rp 5ribu-Rp10 ribu lebih murah dari harga tiket Sriwijaya. 
"Tapi karena peralihan manajemen Sriwijaya ke Garuda, sekarang harga tiket Sriwijaya bisa Rp 500 ribu. Otomatis Lion ikut merangkak naik. Kita jadi kaget, shock nggak di penumpang nggak di agen.  Biasanya Rp 350ribu bisa beli tiket, sekarang harus Rp 500ribu," keluh Mujiono. 
Selain berdampak pada sepinya pembeli tiket pesawat, menurutnya, kondisi kenaikan harga tiket berdampak langsung pada kunjungan wisatawan. 
Adi Susanto owner dari Adiyatama Tour and Travel mengakui, penurunan di agen travelnya mencapai 70 persen pada saat kebijakan kenaikan tiket diberlakukan.
"Biasanya pembelian tiket per hari tidak terhitung, ini sejak Januari 2019 hanya 5 sampai 10 orang. Belum dihajar sama otan (online travel agency)," katanya. 
Kenaikan harga tiket juga berdampak pada kenaikan harga paket wisata.
"Karena biaya perjalanan pesawat include di paket wisata. Otomatis bikin pengunjung enggan berwisata. Pengunjung males pergi ke Lampung," keluh Adi. 
Akibatnya pengunjung dari Jakarta lebih memilih bepergian ke Malaysia karena harga tiketnya jauh lebih murah naik maskapai Lion Air ketimbang berkunjung ke Lampung.
"Tiket domestik malah lebih mahal dari ke luar negeri. Jakarta-Malaysia naik Lion bisa Rp 375 ribu saja. Sementara Jakarta-Lampung mencapai Rp 600 bahkan lebih. Itu pukulan bagi kita," beber Adi. 
Imbas lain sepinya pengunjung ke Lampung, sambungnya, berdampak pada menurunnya pendapatan pelaku UMKM. sepinya pembeli oleh-oleh baik kopi atau keripik pisang dan lainnya mencapai 30 kilo satu orang di sentra pembelian oleh-oleh akibat minimnya wisatawan.
Ini dipicu dikenakannya tarif tambahan bagasi. 
"Bahkan kalaupun berkunjung ke Lampung ya selfie-selfie aja nggak beli oleh-oleh. Karena kena tambahan biaya bagasi. Kita ibarat ketimpa tangga, kena tsunami pula. Udah tiket mahal diterjang isu tsunami," keluhnya. 
Dia berharap kenaikan harga tiket tidak terus berlanjut, karena bakal mematikan pendapatan pelaku agen travel, kunjungan wisatawan, hingga ekonomi UMKM.
"Jangan sampai berdampak pada pemecatan karyawan agen tour and travel. Memperbanyak angka pengangguran," timpalnya.
Mitra Tour and Travel, Pajelis mengatakan, di tempatnya bahkan belum ada pembelian tiket sama sekali sejak kenaikan tiket.
"Kalau dibilang tiket Januari-Februari kosong kita. Dari pemerintah (pesanan) juga belum masuk. Nanti akhir Maret biasanya," ujar Pajelis. 
Belum pembagian keuntungan yang tadinya tujuh persen, kemudian lima persen, saat ini hanya dua persen.
Itupun bukan dari total harga tiket tapi sudah potong PPN dan lainnya.
"Kalau bersih ketemu Rp 500 ribu dua persennya cuman berapa, Rp 10 ribu. Kalau gaji karyawan UMR harus berapa jual tiket? Sementara kami tetap harus gaji karyawan. Belum di Lampung ada 200 lebih agen tour and travel," pungkasnya.
Sebelumnya meski harga tiket pesawat kian melambung, namun warga Bandar Lampung tetap memilih naik pesawat karena lebih cepat sampai.
Bahkan menurut cerita mereka, kursi pesawat selalu penuh diisi penumpang.
Seperti yang dikatakan Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Lampung Hendi Prayogi.
Hendi baru saja melakukan perjalanan ke Jakarta, tanggal 6 Februari 2019 dengan menggunakan pesawat Sriwijaya Air. 

"Saya naik Sriwijaya Air karena Garuda penuh. Sewaktu saya naik Sriwijaya Air, saya melihat semua kursi pesawat penuh," kata Hendi melalui sambungan telepon, Sabtu 9 Februari 2019.
Padahal, lanjut Hendi, harga tiket pesawat Sriwijaya naik.
Ia membeli tiket dengan harga Rp 595 ribu. 
Padahal biasanya harganya hanya Rp 300 ribuan.
Ketika pulang ke Lampung tanggal 9 Februari 2019, Hendi naik Garuda. 
Harga tiketnya juga naik, dari Rp 500 ribuan jadi Rp 690 ribuan.
Meskipun naik, menurut Hendi, kursi pesawat Garuda tetap terisi penuh. 
"Bahkan penuhnya sejak hari Jumat, saya mau reschedule tiket di hari jumat sudah tidak bisa lagi," kata Hendi
Sama dengan Hendi, Owner SOGO Branded Store Sofyan Lim mengatakan, ia baru saja melakukan perjalanan ke Jakarta tanggal 4 Februari 2019 dan pulang ke Bandar Lampung tanggal 7 Februari 2019
Saat itu Sofyan naik Sriwijaya Air baik pulang maupun pergi. 
Menurut Sofyan, tarif tiket Sriwijaya Air naik dari Rp 300 ribuan jadi Rp 500 ribuan.
"Tapi untungnya saya pakai Sriwijaya Pass, jadi saya hanya bayar tiket pesawat Rp 100 ribu saat berangkat dan pulang Rp 135 ribu," kata Sofyan.
Menurut Sofyan, meski tiket pesawat naik, Sofyan melihat kursi pesawat tetap penuh penumpang. 
Ia memperkirakan, kursi pesawat tetap penuh karena pengaruh jam terbang pesawat Sriwijaya Air yang dikurangi. 
Jadi meskipun terjadi pengurangan penumpang tetap tidak terlihat.
(*)

Penulis: sulis setia markhamah
Editor: Teguh Prasetyo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved