Ini 3 Kisah Kasus Pasien Miskin vs RSUDAM, Nomor 2 Paling Viral dan Nomor 3 Paling Tragis

Ternyata banyak kasus terkait masyarakat miskin dengan Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDAM) Bandar Lampung selama ini.

Penulis: Teguh Prasetyo | Editor: Teguh Prasetyo
tribun lampung / kolase
Berlin, putri pasangan Ardiansyah (40) dan Delpasari (31), dibawa naik angkot dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) di Jl Rivai menuju Bundaran Radin Inten di Hajimena dengan jarak sekitar 7,1 kilometer. 

Winda Sari (25), seorang pemulung korban kecelakaan lalu lintas, harus pulang secara paksa dari Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM), Mimggu 4 Januari 2015.

Ia pulang akibat selama semingga ditelantarkan di rumah sakit milik pemerintah Provinsi Lampung itu dan menggelandang di Bandar Lampung.

Bukan dengan ambulans, Winda pulang dengan sebuah gerobak.

Windasari setelah diusir petugas RSUAM dan tinggal di gerobak rongsokan.
Windasari setelah diusir petugas RSUAM dan tinggal di gerobak rongsokan. (tribunlampung/teguh prasetyo)

Saat pulang dari rumah sakit, kondisi lula di kaki Winda sangat parah: membusuk dan ada beberapa belatung.

Sagimin (39), suami Winda, mengaku istrinya sudah seminggu di RSUAM.

Namun, selama seminggu di rumah sakit, Winda tidak mendapatkan pelayanan yang seharusnya.

Bahkan, pada Minggu petang, seorang petugas RSUAM menyuruhnya pulang dengan alasan rumah sakit tidak sanggup lagi menangangi sakit istrinya.

Winda menjadi korban tabrak lari  di sekitar Pasar Tengah, Bandar Lampung, Minggu 28 Desember 2014.

Baca: Keperawanan Gadis SMP Direnggut Pacar, Setelah 5 Kali Baru Terungkap Ternyata Pacarnya Juga Cewek

Mobil yang menabrak Winda tidak sempat dicatat nomor pelat polisinya.

“Saat itu saya tidak ada di lokasi. Saya datang ke lokasi ketika istri saya sudah terkapar dan di kerubungi banyak orang. Lalu istri saya langsung saya bawa ke RSUDAM,” katanya.

Sagimin mengaku, sejak pertama masuk rumah sakit, dipaksa keluar istrinya tidak mendapatkan pelayanan.

Selain tidak diperiksa dokter atau perawat, Winda juga tidak diberi jatah makan dan minum seperti pasien lainnya.

’’Mungkin karena kondisi kami yang seperti ini dan tidak ada kejelasan kami bisa membayar biaya rumah sakit,” tutur pria yang sehari-hari berprofesi sebagai tukang becak itu.

Baca: Wawan, Pria Pemakan Paku Asal Tasikmalaya Meninggal Dunia, Tapi Keluarga Bingung

Untuk mengurangi lebar luka isrinya dan agar cepat kering,  Sagimin menaburkan bedak di atas luka istrinya.

“Saya tadinya berharap datang ke RSUAM agar istri saya segera mendapatkan pengobatan. Tapi karena saya mengaku tak punya biaya maka istri saya dibiarkan begitu saja,” katanya.

Akhirnya setelah viral di media, pasien Winda Sari kembali dirawat di RSUDAM. Namun tak lama berselang, pasien meninggal dunia. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved