Lima Strategi Perlawanan Perempuan Madura Terhadap Pernikahan Dini
Tiadanya batasan definitif usia minimal boleh nikah dalam hukum Islam kerap menjadi legitimasi pernikahan dini.
Melayani suami adalah sebuah pemahaman yang sulit diterima oleh anak-anak. Mengapa ia harus melayani seseorang yang tidak ia sukai, bahkan tidak ia kenal sebelumnya? Pengetahuan tentang kewajiban suami istri memang tidak pernah ia peroleh sebelumnya.
4. Kabur dari Rumah
Keempat, pergi dari rumah setelah acara pernikahan. Sebagian dari mereka kabur ke rumah neneknya karena tidak punya pilihan lain untuk menghindar dari perkawinan yang dipaksakan tersebut.
Mereka akan tetap tinggal di tempat neneknya sampai suaminya menceraikannya. Tidak jarang mereka mendapat siksaan dari orangtuanya supaya kembali kepada suaminya.
5. Sekolah
Kelima, melanjutkan sekolah. Ini bentuk perlawanan yang paling tidak terlihat secara langsung sebagai sebuah perlawanan terhadap pernikahan.
Hampir semua informan menjadikan sekolah sebagai alasan mereka tidak terdiam menjalani pernikahan.
Di sekolah, mereka dapat beraktivitas sebagai pelajar, sekaligus berkumpul dengan teman-teman sebaya mereka. Meskipun demikian, kondisi tidak senantiasa berjalan lancar.
Faktanya, beberapa dari mereka yang masih melanjutkan sekolah dipaksa untuk berhenti karena mulai kelihatan indikasi penolakan mereka terhadap pernikahan.
Bahkan, ada yang tinggal satu bulan ujian akhir tetapi dipaksa berhenti sekolah, sebagaimana terjadi pada seorang informan.
Sedangkan dalam kasus gadis yang menikah siri pada usia 11 tahun, ia meminta orangtuanya mengirimnya ke pesantren setelah lulus sekolah dasar sebagai pelarian setelah dinikahkan secara siri tersebut.
Menjelang lulus Madrasah Aliyah (setingkat SMA), orangtuanya meminta dia bersedia dinikahkan secara resmi di kantor urusan agama, tetapi dia tolak. Tidak hanya sekali menolak, tetapi dua kali menolak, dan setelah itu dia diceraikan oleh suami sirinya.
Setelah lulus Madrasah Aliyah, dia melanjutkan kuliah ke universitas sehingga terlepas dari pernikahan dini.
Akibat Perlawanan
Perlawanan ini dapat berdampak positif atau negatif bagi anak perempuan yang melawan.
Positifnya, anak-anak terbebaskan dari pernikahan yang dipaksakan, yang membuat mereka terbelenggu dan tersiksa oleh kondisi tersebut.
Perlawanan yang dilakukan oleh anak perempuan terhadap kawin anak mengandung berbagai risiko yang terkadang tidak terpikirkan. Dampak yang paling nyata adalah mereka menjadi janda pada usia muda, yang cenderung dinilai negatif oleh masyarakat.
Ini belum termasuk dampak psikologis yang diekspresikan anak menjadi tidak percaya diri dan menarik diri dari pergaulan teman sebayanya.
Dampak lainnya adalah intimidasi baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Termasuk, dikucilkan dan tidak diakui sebagai anak, dari orang tua dan saudara-saudaranya karena perlawanan yang mereka lakukan dianggap mempermalukan keluarga.
Biasanya, ini terjadi pada awal perceraian, meskipun lambat laun orangtua mulai menerima dan dapat memaafkan anak perempuan berani melawan tersebut.
Dari hal-hal di atas, maka sudah seharusnya pemerintah kini melarang perkawinan anak-anak untuk menyelamatkan masa depan mereka.
(Tatik Hidayati, Lecture, Institut Ilmu Keislaman Annuqayah Madura)
Sumber asli artikel ini dari The Conversation. Baca artikel sumber.
(Gita Laras Widyaningrum)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/ilustrasi-pernikahan-dini_20180509_165630.jpg)