Lampung Masuk Pancaroba, BPBD Imbau Tetap Waspada Angin Kencang dan Kebakaran
Rudi mengungkapkan pancaroba memiliki karakteristik adanya aliran angin yang cukup kencang di tengah cuaca panas.
Di Pringsewu, warga di salah satu tempat di Kecamatan Sukoharjo terpaksa mengambil air dari sumur bor bersama.
"(Sumur galian di rumah kering) sudah dari tiga bulan lalu. Terpaksa mengangsu sekitar 300 meter untuk dapat air bersih," kata Sisri, warga setempat.
Di sisi lain, kesulitan air di wilayah Sukoharjo menjadi ladang penghasilan bagi beberapa warga yang mendistribusikan air bersih.
Joni, misalnya. Ia menyalurkan air bersih berkapasitas 1.000 liter menggunakan mobil pikap sekali angkut.
Ia mematok tarif Rp 60 ribu per jeriken.
"Ini untuk warga yang pesan saja karena kekurangan air. Rata-rata sehari distribusikan 4.000 liter air ke warga. Airnya dari sumur bor milik masyarakat," ujar Joni.
• Dalam Sepekan 175 Rumah Rusak Terkena Angin Kencang di Lampung Utara
Di Lampung Selatan, kekeringan terjadi di beberapa wilayah dua bulan terakhir.
Seperti di Kecamatan Bakauheni, mulai dari Dusun Kayu Tabu dan Pematang Macan di Desa Klawi hingga Desa Sidoluhur, Kecamatan Ketapang. Banyak warga terpaksa membeli air dari penjual air yang masuk ke desa.
Ada pula yang setiap hari mengambil air menggunakan kendaraan dari sumber air sejauh 2 kilometer.(tribunlampung.co.id/hanif mustafa/cr4/anung bayuardi/didik budiawan/dedi sutomo)