Cerita Sastrawan Lampung Semacca Andanant Raih Sastra Rancage 2020
Sastra Rancage merupakan penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah di Indonesia.
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Sastrawan Lampung Semacca Andanant berhasil meraih anugerah Sastra Rancage 2020 melalui karyanya berjudul 'Lapah Kidah Sangu Bismilah, Bandung & Hahiwang', diterbitkan Pustaka LaBRAK.
Sastra Rancage merupakan penghargaan yang diberikan kepada orang-orang yang dianggap berjasa bagi pengembangan bahasa dan sastra daerah di Indonesia.
Ada cukup banyak karya dari sastrawan Lampung. Namun karya Andanant berhasil mengunguli karya lainnya hingga ia meraih anugerah ini.
Penghargaan sendiri diserahkan di Jatiwangi Art Factory (JAF) Jalan Makmur 71, Jatisura Kecamatan Jatiwangi, Jawa Barat, (Jumat, 31/1).
Semacca Andanant yang baru sampai di kediamannya kemarin menceritakan, tidak menyangka bisa meraih Sastra Rancage 2020.
Sebab, ada banyak karya sastra yang mumpuni.
• Dosen IIB Darmajaya Raih Juara Sastra Hindu dalam Bahasa Jawa Kuno
• Datangi Lamban Sastra Isbedy, Ade Diberi Masukan Literasi Lampung
• IK Jadi Otak Kaburnya 7 Tahanan dari Sel Mapolsek, Kapolresta Sebut Sedang Dalam Pengejaran
"Tulisan-tulisan sastra Lampung saya ini awalnya hanya di-posting di akun facebook pribadi dari tahun 2009 dan rutin menulis. Ternyata banyak orang yang suka," bebernya yang dihubungi Tribun melalui telepon, kemarin.
Andanant sendiri kini tinggal di Tangerang karena bekerja di kota tersebut.
Ia punya alasan sendiri mengapa di-posting di Facebook.
Menurut Andanant, masalah tulis-menulis dalam bahasa Lampung tidak ada yang memfasilitasi, tidak ada medianya. Jadilah, Facebook menjadi media tempat ia mempublikasikan hasil karyanya itu.
Karya sastranya sendiri berupa sajak-sajak panjang atau berbentuk cerpen yang banyak mengandung nilai-nilai, ilmu pengetahuan, dan kearifan lokal.
Lapah Kidah Sangu Bismilah, Bandung & Hahiwang kata dia menyiratkan kisah bahwa sekalipun berada di tanah rantau namun tidak lupa untuk tetap melestarikan kebudayaan Lampung khususnya mengenai sastra lisan, tentang kepedulian akan bumi Lampung. Karyanya itu kemudian diterbitkan melalui Pustaka LaBRAK pada 2019.
Ke depan dia berharap apresiasi pemerintah lebih baik lagi terhadap karya sastra Lampung. "Minimal ruang geraknya diapresiasi, generasi muda ada kesempatan menggali, melestarikan berbagai seni budaya hingga sastra termasuk bahasanya," tambah pria kelahiran Kota Agung Tanggamus 29 Desember 1974 silam ini.
Ketua Yayasan Kebudayaan Rancage Titi Surti Nastuti mengatakan, juri menilai karya Andanant mampu memasukkan unsur modern dalam Bandung dan Hahiwang, dua bentuk sastra lisan-tradisional Lampung.
"Semacca Andanant yang bernama asli Dainurint Toenith berhasil mengungguli empat karya sastrawan Lampung lainnya," jelas Titi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/sastrawan-lampung-andanant.jpg)