Istana Sebut: Diskusi Pemecatan Presiden, Harus Dilihat Sebagai Bahan Diskusi, Bukan untuk Makar
Diskusi yang diselenggarakan oleh sejumlah mahasiswa di FH UGM pada awalnya akan digelar pada Jumat (29/5/2020) dengan judul "Persoalan Pemecatan
Tidak hanya teror di rumah, Abdul mengatakan Prof Ni'ma juga mengalami teror lewat media sosial.
"Teror yang kedua adalah teror yang ada di media sosial," kata dia.
Abdul menjelaskan kini pihaknya tengah berusaha untuk menempuh jalur hukum atas apa yang diterima oleh Prof Ni'ma.
"Ini sudah kami kumpulkan semua fakta-fakta ini," terang dia.
Ia mengatakan teror fisik memang tidak dialami oleh Prof Ni'ma.
"Memang kalau ditanya apakah ada yang sifatnya fisik? Tidak ada," jelas Abdul.
"Sifatnya terornya adalah rumahnya jam 11 malam digedok-gedok."
"Pintunya, belnya dibunyikan," lanjut Abdul.
Abdul mengatakan berdasarkan keterangan dari Prof Ni'ma ada lebih dari satu orang yang melakukan teror.
"Kalau orang bertamu kan enggak mungkin jam 11 malam," ujar dia.
"Bu Ni'ma sempat melihat orangnya itu ada kurang lebih empat sampai lima orang," tandasnya.
(TribunWow.com/Anung)
Artikel ini sudah tayang di tribunwow dengan judul : Tanggapan Istana soal Diskusi 'Pemecatan Presiden': Bukan Kegiatan Politik dan Makar