Sidang Kasus Dugaan Suap Lampura

Bukan Pelaku Utama, Wan Hendri Minta Dibebaskan dari Segala Tuntutan

Mantan Kepala Dinas Perdagangan Lampung Utara Wan Hendri minta dibebaskan dari segala tuntutan.

Penulis: hanif mustafa | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
Suasana sidang perkara dugaan suap fee proyek Lampung Utara di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (17/6/2020). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Mantan Kepala Dinas Perdagangan Lampung Utara Wan Hendri minta dibebaskan dari segala tuntutan.

Hal ini diungkapkan oleh Sutiyono, penasihat hukum Wan Hendri, saat membacakan nota pembelaan dalam sidang perkara dugaan suap fee proyek Lampung Utara di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (17/6/2020).

Menurut Sutiyono, Wan Hendri bukan pelaku utama dan bukan inisiator.

"Terdakwa tak pernah memberikan perintah atau arahan ke petugas lelang," katanya.

Sutiyono pun meminta agar majelis hakim untuk membebaskan terdakwa dari segala tuntutan.

Malu Jadi Koruptor, Eks Kadisdag Wan Hendri Ngaku ke Anak Sedang Pendidikan di Jakarta

Menyesal Ikut Korupsi, Raden Syahril Sebut Hati Istri dan Anaknya Hancur

Jadi Justice Collaborator, Syahbudin Ingin Tobat dan Hilangkan Harta Haram

BREAKING NEWS Dicekoki Miras, Siswi SMP di Lampung Tengah Diperkosa Kekasihnya dalam Kondisi Mabuk

"Menyatakan terdakwa tidak terbukti bersalah, membebaskan dari segala tuntutan hukum, membebaskan dari segala denda dan menetapkan terdakwa sebagai justice collaborator," tandasnya.

Wan Hendri sendiri menyesal telah menggunakan segala cara demi mendongkrak kariernya.

Hal ini diungkapkan oleh Wan Hendri saat membacakan nota pembelaan dalam sidang perkara dugaan suap fee proyek Lampung Utara di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Rabu (17/6/2020).

"Telah 20 tahun lebih saya mengabdi jadi ASN tak pernah berpikir sedikit pun ada masalah hukum seperti ini. Saya berpikir bagaimana karier saya terus naik dan membahagiakan keluarga. Mungkin jalan saya salah karena loyalitas saya. Saya menyesal dan ini menjadi pelajaran bagi keluarga dan juga ASN lainnya," kata Wan Hendri.

Wan Hendri mengatakan, status koruptor yang melekat pada dirinya menjadi beban berat, khususnya keluarga.

"Namun itu tidak sesuai dengan apa yang saya miliki. Untuk membayar penasihat hukum, saya mendapat bantuan dari keluarga," tuturnya.

Wan Hendri pun meminta maaf kepada anak, istri, keluarga, dan seluruh pihak terkait.

"Mengingat saya memiliki dua orang putri yang masih sekolah dasar, yang membutuhkan kasih sayang saya, setiap waktu dua anak saya menanyakan kapan pulang. Mereka hanya tahu saya pendidikan di Jakarta," jelasnya.

Wan Hendri pun meminta kepada majelis hakim agar memberikan vonis ringan kepadanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved