Tribun Bandar Lampung

Suka Duka Odha Lampung Melewati Pandemi Covid-19, Sempat Kesulitan Mendapat Obat

Saat itu, obat yang biasa diminumnya sempat kosong. Padahal, ODHA wajib minum obat agar bisa menekan penyebaran virus HIV di dalam tubuh.

Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: Reny Fitriani
Dokumentasi
Odha AE. Suka Duka Odha Lampung Melewati Pandemi Covid-19, Sempat Kesulitan Mendapat Obat 

Laporan Reporter Tribunlampung.co.id Jelita Dini Kinanti

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Semua warga harus berjuang melewati pandemi Covid-19, termasuk Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Provinsi Lampung.

Dengan imunitas tubuh yang rendah, ODHA harus mampu melindungi diri agar tidak terpapar virus corona.

Seperti apa cerita para ODHA melewati pandemi Covid ini? Berikut ceritanya.

RB, salah satu ODHA di Lampung.

Sama seperti warga lainnya, RB pun merasakan dampak pandemi Covid.

Apalagi saat awal-awal Corona memasuki Lampung.

Baca juga: Suka Duka ODHA Lampung Melewati Pandemi Covid, Susah Konsultasi Dokter, Obat Dikirim via Ekspedisi

Baca juga: Suspect Covid Ditagih Rp 22 Juta, Keluarga Terpaksa Mengakui Pasien Covid Agar Biaya Digratiskan

Baca juga: Chord Gitar Lagu Syukran Lilla Sabyan Gambus, Alhamdulillah Wasyukurillah

Saat itu, obat yang biasa diminumnya sempat kosong.

Padahal, ODHA wajib minum obat agar bisa menekan penyebaran virus HIV di dalam tubuh.

Alhasil, RB terpaksa mengganti obat yang biasa diminum.

"ODHA itu harus rutin minum obat. Obat itu bukan untuk menyembuhkan. Sebab, sampai saat ini obat HIV/AIDS itu belum ada. Obat yang diminum hanya untuk mengendalikan virus dalam tubuh, agar penyakit tidak semakin parah," tuturnya kepada Tribun, Selasa (1/12/2020).

Namun bagi RB, perjuangan untuk bertahan hidup itu bukan saja saat pandemi, namun sejak awal ia didiagnosa HIV/AIDS.

RB menuturkan, pertama kali tahu menderita HIV/AID pada 2017 akibat narkoba dan seks bebas.

Saat itu, yang ada di pikirannya hanyalah mati, mati dan mati.

"Pokoknya dalam pikiran saya hanya mati, mati, dan mati. Tapi lama kelamaan saya sadar, pikiran itu tidak boleh terus ada. Setiap orang kan pasti akan mati. Kalaupun saya harus mati cepat, saya tidak mau mati dalam keadaan terpuruk," urai pria berusia 33 tahun itu.

Halaman
123
Sumber: Tribun Lampung
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved