Breaking News:

Tulangbawang Barat

Faktor Ekonomi Dorong Meningkatnya Perceraian di Tubaba Lampung, Dampak PHK Selama Pandemi

Alasan faktor ekonomi yang mendominasi meningkatnya perceraian di Kabupaten Tulangbawang Barat Lampung. Pemicunya karena PHK dan tak mampu membiayai.

Penulis: Endra Zulkarnain | Editor: Hanif Mustafa
Thinkstokphotos
Ilustrasi - Alasan faktor ekonomi yang mendominasi meningkatnya perceraian di Kabupaten Tulangbawang Barat Lampung. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, TULANGBAWANG BARAT - Meningkatnya kasus perceraian di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) selama masa pandemi Covid-19 kurun waktu 2020-2021 didominasi lantaran faktor ekonomi.

Pemicunya antara lain, banyak yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sehingga tidak bisa memberi nafkah kepada istri.

Faktor kedua dipicu karena adanya pertikaian yang berujung kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

"Ada juga perceraian karena istri tidak tahan dengan sikap suaminya yang tidak bertanggung jawab, hingga menimbulkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)," terang Humas Pengadilan Agama Tubaba M. Jimi Kurniawan, Rabu (03/11/2021).

“Faktor ekonomi paling dominan cerai, mungkin akibat pandemi ini, banyak yang terdampak PHK,” paparnya.

Baca juga: Diduga Depresi Anaknya Gangguan Jiwa, Ayah di Tubaba Lampung Nekat Akhiri Hidup

Menurutnya, kasus perceraian satu dengan yang lain berbeda. 

"Jika salah satu pihak, semisal tergugat, tidak datang sejak awal biasanya lebih cepat,” pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan kasus perceraian di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) menanjak tajam selama masa pandemi Covid-19.

Pengadilan Agama (PA) Tubaba mencatat, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, ada 1.109 kasus perceraian selama pandemi Covid-19 berlangsung 2020-2021.

“Jumlah perceraian 1.109 kasus, itu dari data total cerai gugat dan talak. Ini berlangsung dalam kurun waktu 2020-2021 selama masa pandemi Covid-19,” terang Humas Pengadilan Agama Tubaba M. Jimi Kurniawan, Rabu (03/11/2021).

Baca juga: Bupati Tubaba Lampung Santuni Anak Yatim Akibat Orangtua Meninggal karena Covid

Dia menuturkan, untuk cerai gugat atau perceraian yang diajukan oleh istri, selama 19 bulan lebih mencapai 626 kasus.

Adapun untuk cerai talak atau perceraian yang diajukan oleh suami selama sebelas bulan terakhir ada 226 kasus.

Dari jumlah itu, angka kasus paling tinggi yaitu cerai gugat. 

"Cerai gugat ada sebanyak 626 kasus dan cerai talak ada 226 kasus,” paparnya. ( Tribunlampung.co.id / Endra Zulkarnain )

Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved