Wawancara Eksklusif Mantan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad

Wawancara Eksklusif Pimpinan Umum Tribun Lampung Hadi Prayogo dengan Mantan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad.

Penulis: Jelita Dini Kinanti | Editor: taryono
Tribunlampung.co.id/Jelita Dini Kinanti
Wawancara Eksklusif Pimpinan Umum Tribun Lampung Hadi Prayogo dengan Mantan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad. 
Wawancara Eksklusif Pimpinan Umum Tribun Lampung Hadi Prayogo dengan Mantan Bupati Tulang Bawang Barat Umar Ahmad.
1. Pariwisata di Tubaba seperti apa?
Sebenarnya kalau ditanya lebih detil apakah kita mengerjakan pariwisata atau tidak, dulu waktu saya jadi bupati, kita tidak pernah mendesain wilayah itu menjadi wilayah pariwisata.
Karena memang dari sisi potensi, minim destinasi yang bisa dikunjungi.
Tapi karena kami mengupayakan perbaikan kualitas, dan orang ingin melihat perbaikan kualitas dalam semua sisi akhirnya banyak yang berkunjung ke Tubaba. Kunjungan orang-orang inilah yang sudah disebut sebagai kunjungan wisata. 
Selagi orang-orang ini berkunjung, kami persiapkan secara matang, kami layani mereka.
Mata dilihatkan apa, telinga  dilihatkan apa, telinga diperdengarkan apa, dan mulut dikasih apa.
2. Wisata apa saja yang ada di Tubaba?
Ada islamic center, masjid yang berdampingan dengan balai adat, dan pasar pulung kencana yang dibangun iconic dan menarik.
Pasar ini diharapkan bukan hanya sebagai pasar tapi juga sebagai tempat wisata. 
Kemudian yang baru saja dibuat adalah uluan nughik yakni suatu kawasan yang menjadi ruang hidup bagi makhluk hidup masa kini dan mendatang.
Makhluk hidup itu bukan hanya manusia, tapi semua makhluk hidup.
Di Uluan nughik ada tempat bernama tiyuh-tiyuh-tiyuh yang merupakan tempat berkumpulnya komunitas, penempaan badik, rumah tenun, Tubaba cerdas, sekolah seni Tubaba, dan Tubaba Camp. Kini sudah ada studio keramik dan patung .
3. Ada namanya pulang ke masa depan. Seperti apa konsepnya?
Udara yang bersih, makan sehat, hubungan manusia saling menghormati dan menghargai, merupakan konsep masa depan.
Semua orang butuh itu. 
Kita mengupayakan bagaimana pembentukan ruang dan orang.
Upaya ini yang disebut pulang ke masa depan. Kita percaya, pendidikan adalah jalan untuk membentuk ini. 
4. Bagaimana hubungan ekonomi kreatif dan pariwisata? 
Balik lagi ke pengertian wisata yakni kunjungan orang ke satu tempat. Di 
Tubaba, dalam satu minggu puluhan ribu orang berkunjung. Untuk itu kami sudah meningkatkan kualitas diberbagai bidang.
Semua kami disuguhkan. Mata menonton apa, telinga mendengar apa, dan setelah pulang mau bawa apa. Bisa jadi dibawa yang dipakai, dimakan, atau dipajang. 
Untuk itulah kami meningkatkan kreatifitas penghuni Tubaba.
Seperti melakukan workshop pembuatan keramik. Tinggal kedepannya lebih konsisten saja.
5. Selain pariwisata juga menggali nilai-nilai luhur masyarakat. Seperti apa?
Kami bukan hanya menunjukan Tubaba seperti apa atau wilayahnya seperti apa. Tapi kami juga menunjukan nilai. Di Tubaba orang-orang memegang prinsip nemen, nedes, nerimo.
Orang-orang di Tubaba memegang prinsip itu.
6. Saya pernah inget ada jin buruk dan jin baik, apa itu?
Sebenarnya bukan hanya di Tubaba.
Tapi juga di Lampung ada banyak makhluk mitologi dengan perangai buruk. Contohnya saja cut bacut. Orang yang rakus sepadan dengan cut bacut.
7. Bapak adalah konseptor, apa yang terjadi di Tubaba baik wisata maupun kembali ke masa lalu Tubaba. Dapat darimana?
Saya bukan orang gemar membaca. Tapi saya menangkap dari pendengaran. Saya banyak mendengar orang. Seperti mendengar ide dan sarannya.
Saat saya mendengar saya posisikan diri saya sebagai gelas kosong yang siap untuk diisi.
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved