Berita Lampung

Nelayan dan Buruh Pengeringan Ikan Bandar Lampung Nelangsa, Dua Bulan Ombak Tinggi

Nelayan di Bandar Lampung sering berhenti melaut akibat ombak tinggi dan angin kencang, produksi pengeringan ikan juga terhenti.

Penulis: Bayu Saputra | Editor: Tri Yulianto
Tribunlampung.co.id / Bayu Saputra
Sumarno (47), nelayan di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung jelaskan nelayan kini jarang melaut akibat ombak tinggi. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Nelayan Bandar Lampung kini kerap berhenti melaut sejak dua bulan terakhir karena ombak di perairan Lampung tinggi.

Sumarno (47), nelayan di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Telukbetung Timur, Bandar Lampung mengatakan, sejak cuaca buruk dua bulan terakhir dirinya bersama puluhan nelayan lainnya sering berhenti melaut.

"Nelayan menggantungkan nasibnya dari melaut, tapi karena angin hingga ombak kencang akhirnya kami hanya diam saja di rumah," kata Nelayan Sumarno saat ditemui Tribun Lampung, Selasa (15/11/2022) di Bandar Lampung.

Ia mengatakan, nelayan di pesisir Lampung memilih menyandarkan kapal hingga bagan di tepi laut.

"Kapal dan bagan kami di pinggir laut, sudah dua bulan ini tidak digunakan akhirnya rusak," ujar Sunarno.

Ia mengatakan, nelayan khawatir saat melaut angin kencang dan membahayakan para nelayan.

Baca juga: Kejari Pesawaran Lampung Diminta Tangkap Mantan Direktur Ponpes Darul Huffaz, Korupsi Rp 2,3 Miliar

Baca juga: Berita Lampung Terkini 15 November 2022, 3 Toko dan Gudang di Basement Lampung City Mall Terbakar

"Pilihannya kami bersandar sejenak sampai dengan cuaca normal lagi," kata Sumarno.

"Nelayan harus menerima konsekuensinya, bagan apung milik nelayan harus rusak dan ambrol diterjang ombak," kata Sumarno.

Ia mengatakan, nelayan hanya bisa pasrah dengan keadaan, sampai menunggu cuaca kembali bersahabat.

"Akibat dari cuaca buruk di perairan laut Lampung berdampak juga dengan pasokan ikan segar untuk masyarakat terhambat," ujar Sunarno.

Selain itu, nelayan tidak melaut berdampak juga bagi buruh pengasinan ikan di Pulau Pasaran, Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Telukbetung Timur, Kota Bandar Lampung.

Pulau Pasaran merupakan tempat atau sentra pengolahan ikan asin terbesar di Lampung, tapi saat ini sepi tidak ada aktivitas.

"Bos tidakk memproduksi ikan asin, karena ikannya saja tidak ada," kata Gelinah, buruh pengasinan ikan.

Ia mengatakan, pasokan ikan dari nelayan tidak ada karena dari cuaca buruk melanda perairan Lampung sejak dua bulan lalu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Lampung
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved