Penelantaran Jenazah di Lampung

Keluarga Pasien Sesalkan Lambatnya Pelayanan RS Urip Sumoharjo 

Keluarga pasien, Sp warga Unit 2, Kabupaten Tulangbawang, menyesalkan lambatnya pelayanan di Rumah Sakit Urip Sumoharjo (RSUS). 

Penulis: Bayu Saputra | Editor: taryono
instagram
Hera, anak pasien Sp warga Unit 2, Kabupaten Tulangbawang, yang meninggal dunia hingga jenazah diduga ditelantarkan oleh Rumah Sakit Urip Sumoharjo (RSUS).(ist). 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Keluarga pasien, Sp warga Unit 2, Kabupaten Tulangbawang, menyesalkan lambatnya pelayanan di Rumah Sakit Urip Sumoharjo (RSUS). 

Hera, anak pasien Sp, mengatakan, pihak RSUS dinilai sangat lambat dalam penanganan ayahnya terutama pasca meninggal dunia. 

Baca juga: Klarifikasi RS Urip Sumoharjo soal Dugaan Menelantarkan Jenazah Pasien

"Kami minta ruang jenazah untuk memandikan bapak kami kenapa tidak ada. Sudah berjam-jam kami menunggu dan kuncinya tidak ada," kata Hera, anak pasien berbaju hijau yang terekam viral di media sosial instagram @voltcyber_v2, saat dihubungi Tribun Lampung, Sabtu (16/3/2024). 

Dia mempertanyakan RSUS tidak memiliki ruang jenazah dan mengaku kesulitan untuk memandikan jenazah ayahnya.

"Kenapa rumah sakit sebesar ini tidak ada ruang jenazahnya, mau mandikan bapak saya saja susah," kata Hera. 

Hera mengatakan, ayahnya diketahui meninggal dunia pada Rabu (13/3/2024) sekitar pukul 03.20 WIB. 

"Setelah ayah kami meninggal dunia hingga mencari ambulans dulu RSUS itu berbelit-belit. Heran RS bagus tidak ada ruang jenazahnya," kata Hera.

Hera mengatakan, setelah orangtuanya meninggal dunia dan sampai pukul 07.00 WIB, tidak ada satupun perawat yang mengeluarkan jasad ayahnya ke luar ruang rawat inap. 

Karena itu, paman marah Hera pun marah.

"Saya cari jas, ambulans dan membawa tukang suntik formalin sendiri, karena memang RSUS ini tidak menyediakan maka kami bawa sendiri," kata Hera. 

Dia menambahkan, saat keluarga meminta dicari tempat kosong untuk prosesi penyuntikan formalin, namun tidak tersedia.

Dirinya sempat menyampaikan kepada tenaga kesehatan bahwa ada ruang isolasi yang  kosong, tetapi malah nakes menyatakan tidak bisa dipakai. 

"Hingga akhirnya saya bawa sendiri dengan rombongan keluarga ke luar ruangan dengan menggunakan kasur dorong atau emergency bed," kata Hera. 

Pihaknya hingga akhirnya membeli formalin dan termasuk panggil jasa penyuntik.

"Ketika bapak saya sudah dimandikan dan datang ambulans, lalu saya masuk ke dalam RSUS mau membayar ambulans," kata Hera. 

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved