Lifestyle

Cosplay Jadi Wadah Mengekspresikan Diri Anak Muda Lampung

Arti dari cosplay sendiri adalah aktivitas orang yang berdandan, dengan mengenakan kostum dan aksesori yang menggambarkan karakter tertentu.

Tayang:
Penulis: Putri Salamah | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
Anastasyia Stevi memakai kostum cosplay. 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Bandar Lampung - Fenomena budaya yang cukup populer di Indonesia adalah cosplay.

Apa itu cosplay? Cosplay sendiri berasal dari kata ‘costume’ dan ‘play’.

Arti dari cosplay sendiri adalah aktivitas orang yang berdandan, dengan mengenakan kostum dan aksesori yang menggambarkan karakter tertentu.

Di Indonesia sendiri, banyak yang suka melakukan cosplay karakter-karakter yang ada di sebuah anime hingga game dari luar negeri dan ternyata sudah banyak diminati oleh para penggemarnya, tak terkecuali Lampung

Orang-orang yang melakukan cosplay, biasanya bermula terinspirasi dan ingin meniru penampilan karakter yang ada di sebuah anime, film, manga, atau game online.

Orang yang melakukan cosplay disebut dengan cosplayer.

Cosplay merupakan sebuah hobi yang sedang jadi tren di kalangan para pecinta budaya anime Jepang.

Salah satu yang menyukai cosplay yakni Anastasyia Stevi.

Stevi panggilan akrabnya mengatakan, awal mula menyukai cosplay karena tertarik dengan karakter anime.

“Aku suka cosplay dari SMP sekitar umur 14 tahun. Awalnya itu main sosmed lihat ada gambar-gambar anime cantik-cantik, lucu-lucu dari situ penasaran. Terus coba nonton anime tapi masih jarang-jarang. Tapi aku tetap interest dengan dunia anime,” ungkapnya, Kamis (10/10/2024).

Kesukaannya terhadap anime ini ternyata tersalurkan, lantaran di sekolahnya ada ekstrakulikuler yang fockus terhadap budaya Jepang.

“Terus masuk SMA Xaverius Pringsewu, ternyata ada ekstrakulikuler Japannese Club. Nah, di situ rata-rata suka anime. Makin banyak tentang anime yang aku tahu, karena makin cari tahu dan makin banyak film anime yang ditonton,” ceritanya.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Stevi hanya bisa melihat kegiatan komunitas cosplay dari media sosial saja.

Keinginannya untuk mencoba cosplay sudah dirasakan sejak SMP.

Dan saat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dirinya yang sudah ikut ekstrakulikuler Japannese Club, akhirnya ikut bergabung dengan komunitas cosplay.

Dan pada akhirnya di tahun 2019, ia bergabung dengan komunitas AFP (Anime Fans Pringsewu). Dalam komunitas itu, Stevi mulai mencoba untuk cosplay.

“Di SMA sudah ikut komunitas, di situ semakin banyak disupport kan, ‘Ayo siapa yang di event besok mau cosplay’ gitu. Rata-rata sudah mulai cosplay, ada beberapa cosplayer di komunitas itu. Kalau ada event itu pasti akan ikut lomba gitu,” ucapnya.

Di tahun yang sama, Stevi juga mengikuti kompetisi cosplay.

“Pertama kali aku cosplay dan ikut kompetisi itu, di tahun 2019 kelas satu SMA semester dua. Itu karakter Silika dari anime Swort Art Online. Dari situ berkembang dan makin banyak kenalan,” ungkapnya.

Dikatakan Stevi, saat itu event cosplay sangat dinantikan oleh penggemar sebab hanya digelar beberapa kali dalam setahun.

Event cosplay di Lampung sendiri semakin berkembang di tahun 2022.

Saat pandemi tahun 2020, Stevi mengaku tetap cosplay namun dari rumah saja.

“Untuk diupload di sosmed, biar semakin dikenal. Dan nggak aku aja, karena teman-teman yang lain gitu juga. Nggak ada event tapi kita tetap cosplay di rumah aja. Jadi hobi itu makin berkembang," paparnya.

Kegiatan cosplay yang dilakukan ini diakuinya sebagai hobi atau kesukaan. Ia mengungkapkan perasaannya saat mengikuti kegiatan cosplay.

“Yang aku rasaian di cosplay itu untuk happy, biar senang aja,” ujarnya.

Selain karena hobi, Stevi menganggap cosplay sebagai wadah untuk mengekspresikan diri melalui karakter anime yang disukai.

“Terus bisa mengekspresikan karakter, itu nomor satu ya. Kita jadi karakter anime, kita berusaha untuk bisa menjiwai dan bisa cocok gitu. Kadang nggak semua karakter itu masuk saat kita cosplay kan,” katanya.

Stevi pun merasakan sejumlah manfaat lain saat masuk ke dunia cosplay.

Menurut pengalamannya, acara cosplay ini juga bisa membuka peluang pekerjaan dan relasi untuk para cosplayer. 

“Perkembangan jadi lebih luas. Setelah pandemi event semakin banyak ya, setiap minggu kita ada event. Jadi kita nggak cuma datang untuk cosplay aja, ada tujuan masing-masing. Kadang aku make up-in cosplayer yang mungkin dia belum PD (percaya diri) untuk make up sendiri. Aku bisa masuk kebagian event organizernya juga, untuk krunya atau ngurus eventnya. Selain itu juga, aku pernah jadi MC untuk acara event-nya,” jelasnya.

Tak berhenti di situ saja, Stevi menyebut peluang bisnis pun juga ada.

Salah satunya yakni rental kostum cosplay. Kostum-kostum cosplay dan wig biasanya dipesan dari luar negeri, seperti China. Namun, lanjut Stevi, ada pula yang membuat kostum sendiri.

“Setelah kita beli nih kita bisa sewain atau rentalin. Dan peminatnya cukup banyak ya, karena nggak semua orang bisa beli sendiri karena harganya lumayan. Ketika ada yang rentalin itu benar-benar sangat membantu,” ujarnya.

Stevi mengatakan jika sampai saat ini peminat cosplay sudah sangat banyak.

“Ternyata tuh menjangkau banyak orang. Yang awalnya nggak tahu anime terus penasaran. Apalagi kostum-kostumnya aneh karena belum kenal, jadi pengen tahu,” pungkasnya.

Sejumlah komunitas cosplay yang ada di Lampung di antaranya, ada WeebStellar, Anime Fans Pringsewu (AFP), Lotus Chamber, D One, dan YOLO.

(Tribunlampung.co.id/Putri Salamah)

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved