Mutiara Ramadan
Bahaya Ghibah dan Namimah
Ghibah dan namimah adalah perbuatan seseorang yang membicarakan keburukan orang lain saat orang tersebut tidak berada di tempat itu.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ghibah dan namimah adalah sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT.
Ghibah dan namimah adalah perbuatan seseorang yang membicarakan keburukan orang lain saat orang tersebut tidak berada di tempat itu.
Rasulullah SAW pernah bertanya kepada sahabatnya, “Wahai sahabatku, tahukah kalian apa itu ghibah?”
Maka sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.”
Lalu Muhammad SAW bersabda, “Ghibah adalah kalian membicarakan seseorang yang, apabila ia mendengarnya, akan merasa benci atau tidak suka.”
Dengan kata lain, ghibah adalah membicarakan keburukan orang lain.
Kemudian sahabat bertanya kembali, “Ya Rasulullah, bagaimana jika yang kami bicarakan itu mengandung fakta dan kebenaran?”
Maka sabda Rasulullah, “Berarti kalian sudah melakukan ghibah. Andaikan perkataannya tidak benar, berarti kalian sudah memfitnahnya.” (Hadis Riwayat Muslim)
Wakil Sekretaris LDNU Lampung M Mathla'il Fajri mengatakan, dalam hadis ini sudah sangat jelas bahwa ghibah adalah salah satu penyakit hati yang harus dijauhi.
Karena ghibah ini membicarakan keburukan orang lain tanpa sepengetahuan orang tersebut.
Bagaimana dengan namimah? Namimah lebih spesifik lagi, yaitu mencari-cari kesalahan orang lain dan keburukan mereka dengan cara mengadu domba.
Allah berfirman dalam Alquran surat Al-Hujurat ayat 12, yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang serta janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Maka bagi orang yang melakukan ghibah, ibaratnya ia memakan bangkai saudara sendiri yang sudah mati.
“Tentu kalian akan merasa jijik terhadapnya. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (Alquran Surat Al-Hujurat ayat 12)
“Allah memerintahkan kita, umat Islam yang beriman, untuk menjauhi prasangka buruk (suuzan) kepada orang lain. Kita juga diperintahkan untuk tidak mencari-cari kesalahan orang lain karena kesalahan kita sendiri pun banyak,” kata Mathla'il Fajri dalam program Mutiara Ramadan yang tayang di kanal YouTube Tribun Lampung, Sabtu (22/3).
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.