Lifestyle

Sikapi Fenomena Pendaki FOMO, Della: Belum Tentu Siap Fisik atau Mental

Fenomena pendaki FOMO adalah orang yang mendaki gunung karena takut ketinggalan tren atau demi konten semata.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Deni Saputra
PENDAKI FOMO - Della Adelia, foto dibidik Kamis (18/7/2025). Menurut Della pendaki FOMO belum tentu siap fisik atau mental. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Fenomena pendaki FOMO adalah orang yang mendaki gunung karena takut ketinggalan tren atau demi konten. Istilah lainnya yakni pendaki yang terdorong naik gunung karena tren di media sosial, bukan motivasi sejati untuk mencintai alam.

Menurut Della Adelia, pendaki FOMO adalah pendaki yang hanya ingin mengikut tren saja.

"Sekarang tuh kayaknya banyak yang naik gunung karena pengin ikut-ikutan tren doang. Lihat temennya posting foto di puncak, langsung pengen juga. Padahal belum tentu siap secara fisik atau mental. Saya sendiri waktu itu emang diajak temen, tapi bukan karena pengen gaya-gayaan. Lebih ke penasaran, bener gak sih naik gunung itu se-healing itu? Dan ternyata, emang bener!," ujarnya, Kamis (18/7).

Ia menyebut mendaki tidak boleh hanya modal FOMO, tapi harus mempersiapkan diri sebaik-sebaiknya sebelum melalukan pendakian.

"Cuma ya, menurut saya naik gunung itu gak bisa cuma modal FOMO. Ini bukan jalan-jalan biasa, ada capeknya, ada risikonya juga. Pas hujan di tengah perjalanan ke Rajabasa aja rasanya udah kayak ujian hidup. Tapi justru dari situ saya ngerasain banget serunya, belajar sabar, kerja sama, dan nikmatin momen tanpa distraksi," ujarnya.

"Jadi buat yang mau naik gunung, gak masalah kok asal tau tujuan dan siapin diri. Jangan cuma karena takut gak kekinian, tapi pas udah di jalur malah nyusahin diri sendiri atau tim. Karena naik gunung itu bukan soal sampai puncak aja, tapi juga bagaimana cara kita nikmatin perjalanannya," sambungnya.

Ia menyebut dirinya pertamakali naik gunung di semeter awal kuliah.

"Waktu itu ikut temen-temen naik ke Gunung Rajabasa di Lampung. Jadi ya, bisa dibilang baru-baru aja sih," sambungnya.

Ia mengaku baru satu gunung saja yang didaki. Hal ini lantaran sibuk dengan perkuliahan yang tak hanya belajar di kelas namun juga mengikuti organisasi. 

"Di kampus banyak kegiatan organisasi juga, jadi waktunya kadang mepet. Tapi pengen banget nambah list gunung selanjutnya," ucapnya.

Ia menyebut pengalaman paling berkesan saat naik gunung, dirinya hampir terjatuh, karena saat itu trek perjalanan licin.

"Yang paling berkesan jelas pas pertama kali ke Rajabasa. Waktu itu hujan turun pas udah setengah perjalanan, jadi licin banget dan harus ekstra hati-hati," ujarnya.

"Tapi begitu nyampe atas dan lihat pemandangannya bener-bener worth it. Rasa capek langsung ilang," sambungnya

Ia bersyukur belum pernah cidera saat naik gunung. 

"Alhamdulillah sih gak sampe cedera parah, paling cuma kepeleset dikit-dikit doang. Namanya juga medan gunung, harus siap mental dan fisik," ujarnya.

Menurutnya manfaat naik gunung dapat menghilang stress dari rutinitas kuliah. "Bisa sekalian refleksi diri juga, jauh dari keramaian, sinyal ilang, jadi bisa lebih connect sama diri sendiri," ujarnya.

"Plus, ngajarin kerja sama tim juga, karena gak bisa egois kalau lagi naik bareng-bareng," sambungnya. 

(Tribunlampung.co.id/Dominius Desmantri Barus)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved