Longsor Cisarua

Ayah Kopda Randa Ikhlas Lepas Putranya, Prajurit Marinir Gugur Saat Longsor Cisarua

Johariyanto, ayahanda Kopral Dua Marinir (Kopda Mar) Randa Pratama, mengaku ikhlas melepas kepergian putra kesayangannya itu, untuk selamanya.

Tribunlampung.co.id/Dominius Desmantri ini Barus
PRAJURIT GUGUR DIMAKAMKAN - Prosesi pemakaman Kopda Mar Randa Pratama di TPU Sumbersari, Desa Mandah, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Minggu (1/2/2026). Kopda Mar Randa Pratama, menjadi satu dari 23 anggota marinir yang gugur akibat terkena longsor Cisarua. Johariyanto, ayahanda Kopda Mar Randa Pratama, mengaku ikhlas melepas kepergian putra kesayangannya itu, untuk selamanya. 

Ringkasan Berita:
  • Kopda Mar Randa Pratama gugur akibat longsor saat tugas di Cisarua, Bandung Barat.
  • Ayah almarhum, Johariyanto, mengaku ikhlas melepas putra satu-satunya demi negara.
  • Randa sejak kecil bercita-cita menjadi tentara dan akhirnya bergabung dengan Korps Marinir.
  • Almarhum meninggalkan istri dan bayi berusia 8 bulan. Pemakaman dilakukan secara militer di Lampung Selatan.

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, Lampung Selatan - Johariyanto, ayahanda Kopral Dua Marinir (Kopda Mar) Randa Pratama, mengaku ikhlas melepas kepergian putra kesayangannya itu, untuk selamanya.

Kopda Mar Randa Pratama menjadi satu dari 23 prajurit marinir TNI Angkatan Laut yang gugur saat insiden bencana longsor Cisarua.

Prajurit Batalyon Infanteri 9/Bala Jala Yudha Perkasa (Brigif 4 Marinir/BS) itu, pergi untuk selamanya meninggalkan istri dan bayi yang baru berusia 8 bulan.

Insiden longsor melanda tiga kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari.

Longsor adalah peristiwa runtuh atau bergesernya massa tanah, batuan, atau material lainnya dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Biasanya dipicu oleh hujan lebat, erosi, gempa, atau kondisi tanah yang labil.

Ditemui di rumah duka, Minggu (1/2/2026), Johariyanto mengenang putranya semasa hidupnya.

Menurut Johariyanto, sang putra memang sejak kecil telah memantapkan cita-citanya menjadi seorang tentara.

Prajurit yang lahir di Sumbersari, pada 15 Desember 1996 itu, merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, sekaligus anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Johariyanto dan Mardalena.

Sejak kecil, almarhum dikenal sebagai pribadi yang disiplin, pekerja keras, dan memiliki tekad kuat.

Johariyanto menyebut, cita-cita almarhum menjadi tentara sudah terpatri sejak duduk di bangku sekolah dasar.

"Sejak kecil dia sudah bilang ingin jadi tentara. Itu bukan sekadar ucapan, tapi benar-benar dia persiapkan," ujar Johariyanto.

Randa mengawali pendidikannya di SD Negeri Sumbersari, kemudian melanjutkan ke SMP Negeri 1 Natar, dan menamatkan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 14 Bandar Lampung.

Selama masa sekolah, Randa dikenal aktif dan memiliki minat besar pada kegiatan fisik dan bela diri.

Usai lulus SMA, Randa langsung berupaya mewujudkan mimpinya dengan mengikuti seleksi masuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) pada tahun 2016.

Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Baca juga: Prajurit Marinir Korban Longsor Cisarua Dimakamkan, Tinggalkan Bayinya Berusia 8 Bulan

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved