Longsor Cisarua

Kopda Randa Pratama Tinggalkan Seorang Istri dan Bayi Berusia 8 Bulan

Dengan suara bergetar namun penuh keikhlasan, Johariyanto melepas kepergian putra kesayangannya, Kopral Dua Marinir Randa Pratama.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: taryono
Tribunlampung.co.id/Dominius Desmantri Barus
PEMAKAMAN RANDA PRATAMA - Johariyanto, ayah dari Randa Pratama di pemakaman sang putra. Kopda Randa Pratama Tinggalkan Istri dan Bayi Berusia 8 Bulan. 

Ringkasan Berita:
  • Kopda Marinir Randa Pratama gugur dalam longsor Cisarua, Bandung Barat, 24 Jan 2026.
  • Ia satu dari 23 prajurit Marinir TNI AL yang meninggal dunia.
  • Randa meninggalkan istri dan bayi 8 bulan.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Dengan suara bergetar namun penuh keikhlasan, Johariyanto melepas kepergian putra kesayangannya, Kopral Dua Marinir Randa Pratama, yang gugur dalam bencana longsor Cisarua

Prajurit TNI AL itu menjadi satu dari 23 marinir yang meninggal dunia, meninggalkan seorang istri dan bayi berusia delapan bulan demi tugas negara.

Kepergian Kopral Dua Marinir Randa Pratama meninggalkan duka mendalam, tak hanya bagi keluarga, tetapi juga menjadi kisah tentang keteguhan cita-cita yang dijalani hingga akhir hayat. 

Randa gugur sebagai prajurit TNI Angkatan Laut dalam bencana longsor Cisarua, Jawa Barat, Sabtu (24/1/2026) dini hari.

Prajurit Batalyon Infanteri 9/Bala Jala Yudha Perkasa (Brigif 4 Marinir/BS) itu menjadi satu dari 23 marinir yang meninggal dunia akibat longsor yang melanda tiga kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. 

Baca juga: Ayah Kopda Randa Ikhlas Lepas Putranya, Prajurit Marinir Gugur Saat Longsor Cisarua

Ia berpulang meninggalkan seorang istri dan bayi yang baru berusia delapan bulan.

Di rumah duka, Minggu (1/2/2026), sang ayah, Johariyanto, mengenang perjalanan hidup putra kesayangannya dengan mata berkaca-kaca. Meski berat, ia mengaku ikhlas melepas kepergian anak laki-laki satu-satunya itu.

Menurut Johariyanto, cita-cita Randa menjadi tentara telah tumbuh sejak usia dini. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, almarhum sudah mantap ingin mengabdikan diri sebagai prajurit.

“Sejak kecil dia sudah bilang ingin jadi tentara. Itu bukan sekadar ucapan, tapi benar-benar dia persiapkan,” ujar Johariyanto.

Randa yang lahir di Sumbersari pada 15 Desember 1996 merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Sejak kecil, ia dikenal disiplin, pekerja keras, dan memiliki tekad kuat. 

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri Sumbersari, dilanjutkan ke SMP Negeri 1 Natar, dan SMA Negeri 14 Bandar Lampung.

Selama masa sekolah, Randa aktif dalam berbagai kegiatan fisik dan bela diri. Setelah lulus SMA, ia langsung berjuang mewujudkan mimpinya dengan mengikuti seleksi TNI Angkatan Darat pada 2016. Meski gagal, Randa tak menyerah.

Setahun kemudian, ia kembali mencoba peruntungan melalui seleksi TNI Angkatan Laut. Usahanya membuahkan hasil. Pada 2017, Randa resmi diterima dan memulai pengabdiannya sebagai prajurit marinir.

“Tahun 2016 dia tes TNI AD tapi belum berhasil. Tidak putus asa. Tahun 2017 dia tes TNI AL, alhamdulillah diterima,” kata Johariyanto.

Bagi keluarga, Randa bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga pahlawan. Sosok anak, suami, dan ayah yang rela mengabdikan hidupnya untuk negara.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved