Berita Lampung

Kasus DBD di Pesawaran Naik, 4 Warga Meninggal Sepanjang 2025

Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Pesawaran mengalami peningkatan sepanjang 2025. 

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Oky Indra Jaya | Editor: taryono
Tribunlampung.co.id/Oky Indrajaya
PENDERITA DBD - Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pesawaran Chris Manurung. Kasus DBD di Pesawaran Naik, 4 Warga Meninggal Sepanjang 2025. 

Ringkasan Berita:
  • Kasus DBD di Kabupaten Pesawaran meningkat sepanjang 2025 dengan total 549 kasus dan empat kematian, naik dibanding 2024 yang mencatat 461 kasus dan dua kematian.
  • Kecamatan dengan kasus tertinggi yakni Negeri Katon (120 kasus, 1 meninggal) disusul Gedong Tataan (113 kasus).
  • Meski tahunan naik, tren tiga bulan terakhir menurun: Oktober 22 kasus, November 11, Desember 13.

Tribunlampung.co.id, PesawaranKasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Pesawaran mengalami peningkatan sepanjang 2025. 

Dinas Kesehatan setempat mencatat hingga Desember 2025 terdapat 549 kasus dengan empat kematian.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode Januari–Desember 2024 yang mencatat 461 kasus dengan dua kematian.

Kepala Bidang Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Pesawaran Chris Manurung mengatakan, kecamatan dengan kasus tertinggi berada di Negeri Katon, yakni 120 kasus dengan satu kematian disusul Kecamatan Gedong Tataan dengan 113 kasus.

Meski secara tahunan meningkat, Chris menyebut tren kasus DBD dalam tiga bulan terakhir justru menunjukkan penurunan. 

Baca juga: BPBD Pesawaran Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Musim Hujan

Pada Oktober 2025 tercatat 22 kasus, November 11 kasus, dan Desember 13 kasus.

“Untuk kelompok usia, yang paling rentan terpapar DBD berada pada rentang 15 hingga 44 tahun,” ujarnya kepada Tribun Lampung, Rabu (4/2/2026).

Empat kasus kematian akibat DBD masing-masing tercatat di Kecamatan Tegineneng, Marga Punduh, Negeri Katon, dan Gedong Tataan.

Dalam upaya pengendalian, Dinas Kesehatan terus melakukan penyuluhan melalui puskesmas, kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) mingguan, penyelidikan epidemiologi setiap ada laporan kasus, pemberian abate, serta fogging pada kasus tertentu.

Namun, Chris menegaskan fogging bukan metode utama pengendalian DBD

Menurutnya, langkah paling efektif adalah PSN dengan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mengubur tempat penampungan air secara rutin setiap minggu.

“Puskesmas bersama kader jumantik juga rutin melakukan pemeriksaan jentik di lingkungan rumah warga,” katanya.

Terkait kendala, Dinas Kesehatan mengakui keterbatasan logistik masih menjadi persoalan. 

Selama ini, kebutuhan logistik penanganan DBD hanya mengandalkan hibah dari pemerintah provinsi yang jumlahnya terbatas.

Dinas Kesehatan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di musim hujan yang menjadi puncak kasus DBD

Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari atau menunjukkan gejala DBD.

(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved