Berita Lampung

Khoirul dan Warga Bandar Harapan Bertaruh Nyawa Lewati Jembatan Bergoyang

Riuh gemericik Sungai Way Pengubuan menemani setiap langkah warga Dusun Bandar Harapan, Kampung Poncowati, Kecamatan Terbanggi Besar.

Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: taryono
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
TINJAU - Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Lampung Tengah Alfa Dera dan jajaran bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung Tengah meninjau lokasi jembatan gantung Bandar Harapan, Kampung Poncowati, Kecamatan Terbanggi Besar, lampung Tengah, Rabu (11/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Sungai Way Pengubuan terus mengalir deras, menemani aktivitas warga Dusun Bandar Harapan, Kampung Poncowati, Terbanggi Besar, Lampung Tengah.
  • Arus sungai menghantam tiang dan lantai kayu jembatan gantung yang menjadi urat nadi warga.
  • Jembatan ini dilalui setiap hari warga untuk pergi ke sawah, sekolah, dan pasar.

Tribunlampung.co.id, Lampung - Riuh gemericik Sungai Way Pengubuan menemani setiap langkah warga Dusun Bandar Harapan, Kampung Poncowati, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah

Sejak pagi buta hingga matahari tepat di atas kepala, arus deras menghantam tiang dan lantai kayu jembatan gantung yang menjadi urat nadi mereka, tempat setiap hari warga meniti untuk pergi ke sawah, sekolah, atau pasar.

Di sanalah ratusan langkah kecil setiap hari dipertaruhkan.

Siang itu, suasana dusun ramai. Petani pulang dari ladang dengan tubuh lelah dan sepatu berlumpur. Anak-anak sekolah berseragam merah-putih dan biru-putih bersiap kembali ke rumah. 

Para orangtua berdatangan dari satu arah, sebagian menenteng helm, sebagian lagi menuntun sepeda motor, menjemput anak-anak mereka yang duduk di bangku SD dan SMP.

Baca juga: Pasutri di Lampung Selatan Luka-luka Dianiaya OTK, Pelaku Kabur Bawa 2 Sajam

Namun di ujung jembatan, pemandangan lain menyita perhatian.

Seorang petani berbaju lengan panjang dan bertopi caping berdiri di genangan air. Tangki semprot tergantung di punggungnya. Motor trondol—motor tanpa body yang biasa dipakai petani—terdiam mogok tepat setelah melintasi jembatan yang setengah terendam banjir.

Ia adalah Khoirul.

Sudah kali ketiga motornya mati akibat banjir yang meluap hingga merendam jembatan dan jalan di kedua sisinya. Namun bagi Khoirul, menerjang genangan air adalah pilihan yang lebih bisa diterima dibanding risiko lain yang jauh lebih menakutkan.

"Risiko motor mogok masih bisa saya terima. Yang saya takutkan kalau motor terperosok karena papan jembatan amblas atau hanyut. Arusnya deras sekali,"ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Setiap kali berhasil menghidupkan motornya kembali dan menjauh dari genangan itu, satu pertanyaan selalu muncul di benaknya, kapan akses ini dibenahi.

Jembatan yang Bergoyang, Kekhawatiran yang Nyata

Jembatan gantung itu bukan sekadar penghubung dua sisi kampung. Ia adalah jalan menuju sekolah, sawah, pasar, dan harapan. Saat musim hujan datang dan sungai meluap, lantai kayu jembatan terendam hingga berhari-hari. Luapan air bahkan bisa bertahan sampai satu minggu.

Selama itu pula, papan-papan kayu yang sudah lapuk tetap dipijak ratusan kendaraan dan kaki warga.

"Banyak sekali yang melintasi jembatan ini. Terlambat, motor mogok, baju basah, sandal putus atau hanyut, jatuh terpeleset itu kemungkinan yang terjadi kalau air sungai meluap," kata Khoirul.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved