Berita Lampung
Harga Kedelai Meroket Imbas Perang Timur Tengah, Perajin Tahu di Lampung Kelimpungan
Kenaikan harga kedelai impor memberikan tekanan serius bagi khususnya perajin tahu dan tempe di Kecamatan Punggur, Kabupaten Lamteng.
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: Kiki Novilia
Ringkasan Berita:
- Kenaikan harga kedelai impor memberikan tekanan serius bagi khususnya perajin tahu dan tempe di Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah.
- Saat ini, harga kedelai impor telah mencapai Rp 520 ribu per 50 kilogram per Kamis (2/4/2026), naik sekitar Rp 45 ribu dibandingkan pekan sebelumnya.
- Dengan harga saat ini, margin keuntungan semakin menipis karena harga jual tahu tidak bisa dinaikkan secara signifikan.
Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah - Kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa bulan terakhir mulai memberikan tekanan serius bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya perajin tahu dan tempe di Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah.
Satu di antara perajin tahu, Kemi, mengaku terkejut dan kelimpungan dengan lonjakan harga bahan baku utama usahanya.
Saat ini, harga kedelai impor telah mencapai Rp 520 ribu per 50 kilogram per Kamis (2/4/2026), naik sekitar Rp 45 ribu dibandingkan pekan sebelumnya.
Dalam kurun waktu empat bulan terakhir, kenaikan bahkan mencapai Rp 100 ribu per kuintal.
Kondisi ini mulai dirasakan sejak setelah Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, di mana harga kedelai naik secara bertahap sekitar Rp 10 ribu.
Baca juga: Lampung Siap Jadi Sentra Kedelai Garuda Merah Putih
Padahal, pada Februari 2026 sempat terjadi penurunan harga sekitar Rp 20 ribu, namun hanya bertahan selama tiga hari sebelum kembali melonjak.
Bagi Kemi, kenaikan harga ini sangat memberatkan. Dalam sehari, ia membutuhkan sekitar 150 kilogram kedelai untuk produksi.
Sementara itu, di Kampung Sidomulyo, Kecamatan Punggur, sekitar 15 pengusaha tahu dan tempe bisa menghabiskan hingga 1 ton kedelai per hari.
Ia menilai, harga ideal kedelai bagi perajin tahu skala rumahan berada di kisaran Rp 460 ribu per 50 kilogram.
Dengan harga saat ini, margin keuntungan semakin menipis karena harga jual tahu tidak bisa dinaikkan secara signifikan.
“Harga kedelai terus naik, sementara harga tahu tidak bisa ikut dinaikkan,” ujarnya.
Tak hanya kedelai, kenaikan juga terjadi pada bahan penunjang lainnya. Harga minyak goreng curah naik dari Rp 18–19 ribu menjadi Rp 21 ribu per liter.
Sementara itu, harga plastik kemasan melonjak dari Rp 7 ribu menjadi Rp 12 ribu per pak. Padahal, ketiga komponen tersebut merupakan kebutuhan utama dalam produksi tahu.
Kondisi ini membuat Kemi berada dalam dilema. Ia belum dapat menentukan langkah pasti untuk menekan biaya produksi.
Jika harga terus meroket, ia mengaku terpaksa mengurangi kapasitas produksi, bahkan berpotensi mengurangi jumlah pekerja.
| Program Magang Jepang 2026 Dibuka di Pringsewu, Peluang Kerja dan Gaji Menjanjikan |
|
|---|
| Prakiraan Cuaca Lampung Selasa 28 April 2026, Hujan Berpotensi Turun Malam Hari |
|
|---|
| Pengukuhan Guru Besar Unila, Prof Erna Dewi Soroti Sistem Pemidanaan dalam KUHP |
|
|---|
| 30 Persen Jemaah Haji Pesawaran Lampung Alami Hipertensi, Diskes Perkuat Pengawasan Lansia |
|
|---|
| Magang ke Jepang Dibuka, Peserta dari Pringsewu Lampung Wajib 70 Hari Pelatihan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Perajin-Tahu-di-Lampung-Kelimpungan.jpg)