Berita Lampung

Kisah Perajin Batako di Lampung Tengah Bertahan di Tengah Gempuran Bata Ringan

Meski persaingan material bangunan semakin ketat, Sutarman memilih untuk terus memproduksi batako secara otodidak

Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
LAYANI PESANAN - Sutarman, perajin batako sedang melayani pesanan di Kecamatan Bumiratu Nuban, Lampung Tengah, Jumat (3/4/2026). 

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TENGAH - Di tengah masifnya tren penggunaan material bangunan modern seperti bata ringan (hebel), para perajin batako konvensional harus memutar otak untuk tetap bertahan. 

Salah satunya adalah Bapak Sutarman, seorang perajin yang telah menekuni pembuatan batako selama tiga tahun terakhir di wilayah Kelurahan Sukajawa, Kecamatan Bumiratu Nuban, Lampung Tengah.

Meski persaingan material bangunan semakin ketat, Sutarman memilih untuk terus memproduksi batako secara otodidak, sebuah keahlian yang ia pelajari dari rekannya. 

Baginya, batako tetap memiliki tempat di hati masyarakat karena proses pengerjaannya yang dianggap lebih simpel dan memiliki daya tahan yang kuat jika dibandingkan dengan material lain.

Sistem Pesanan dan Tantangan Produksi

Sutarman tidak memproduksi batako setiap hari secara massal. 

Ia bekerja berdasarkan sistem pesanan yang masuk, yang biasanya berjumlah dua hingga tiga kali dalam sebulan. Dalam sekali pesanan, volume yang dikerjakan cukup besar, mulai dari 1.000 hingga 2.000 buah batako.

"Kalau 1.000 batako itu kurang lebih pengerjaannya selesai dalam lima hari," ujar Sutarman disela waktu istirahat membuat batako di Kampung Sukajawa, Kecamatan Bumiratu Nuban, Lampung Tengah, Jumat (3/4/2026).

Untuk urusan harga, Sutarman mematok tarif jasa pembuatan batako yang cukup kompetitif, yakni sekitar Rp 600 rupiah hingga Rp 700 rupiah per buah. 

Selain mematok harga jasa per satuan, ia juga menyediakan jasa borongan dengan tarif Rp 50 ribu per zak semen, di mana seluruh bahan baku disediakan oleh pemesan, sementara ia hanya menyediakan jasa dan peralatan cetak miliknya.

Dia mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi Sutarman saat ini bukanlah sesama perajin lokal, melainkan kehadiran material pabrikan seperti bata ringan (hebel).

Material tersebut kini mulai mendominasi proyek-proyek perumahan modern karena bobotnya yang ringan dan harganya yang bersaing.

Namun, Sutarman tetap optimistis. 

Dengan bermodalkan alat cetak hasil buatan bengkel las lokal, ia terus melayani kebutuhan pembangunan di sekitar wilayah Bumi Waras. 

"Meskipun permintaan tidak menentu, ketekunan menjadi kunci utama bagi para perajin tradisional ini agar tidak tergilas oleh zaman," ujarnya.

( TRIBUNLAMPUNG.CO.ID / Fajar Ihwani Sidiq )

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved