Berita Lampung

Siskamling Jadi Strategi BPBD Lampung Hadapi Ancaman Karhutla TNWK

BPBD Lampung mulai menggeser strategi penanganan dengan memperkuat peran warga lewat siskamling di sekitar kawasan rawan, TNWK.

Penulis: Hurri Agusto | Editor: soni yuntavia
Tribunkaltim.com
SISKMALING - Ilustrasi kebakaran hutan. BPBD Lampung akan melibatkan warga melalui sistem siskamling untuk memantau potensi titik api di TNWK. 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Ancaman kebakaran hutan dan lahan ( karhutla ) di Provinsi Lampung tak hanya dihadapi dengan teknologi dan kekuatan personel, tetapi juga melalui keterlibatan aktif masyarakat hingga pendekatan spiritual.

Menghadapi prediksi kemarau ekstrem akibat fenomena El Nino 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah ( BPBD ) Lampung mulai menggeser strategi penanganan dengan memperkuat peran warga di sekitar kawasan rawan, khususnya di wilayah penyangga Taman Nasional Way Kambas.

Analis Kebencanaan BPBD Lampung, Wahyu Hidayat, menegaskan bahwa masyarakat kini menjadi bagian penting dalam sistem deteksi dini kebakaran melalui pengaktifan Desa Tangguh Bencana (Destana).

“Warga akan kita libatkan langsung melalui sistem siskamling untuk memantau potensi titik api. Ini penting karena mereka yang paling dekat dengan lokasi rawan,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).

Langkah ini diambil sebagai respons atas pengalaman kebakaran sebelumnya yang melanda kawasan Way Kambas pada Januari lalu, yang menghanguskan ribuan hektare lahan konservasi.

Selain itu, BPBD juga mendorong pelaku usaha di sekitar hutan untuk meningkatkan kewaspadaan secara mandiri, mulai dari memastikan alat pemadam api ringan (APAR) berfungsi hingga menyediakan sumber air darurat.

Namun, yang menarik, pendekatan penanggulangan tahun ini tak hanya mengandalkan upaya teknis seperti water bombing atau modifikasi cuaca. BPBD juga mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar melalui doa.

Para tokoh agama dan pesantren diimbau menggelar doa bersama hingga salat Istisqa sebagai bentuk harapan agar bencana kekeringan tidak semakin meluas.

“Kita ingin ada keseimbangan antara usaha teknis dan spiritual. Ini bagian dari ikhtiar bersama,” kata Wahyu.

Dengan kombinasi pendekatan berbasis komunitas dan spiritual, Lampung berupaya membangun ketahanan kolektif dalam menghadapi ancaman karhutla yang diprediksi menjadi salah satu yang terberat dalam beberapa dekade terakhir.

( Tribunlampung.co.id

Sumber: Tribun Lampung
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved