Berita Lampung

TBC di Lampung Masih Tinggi, Deteksi Dini Jadi Kunci Tekan Penularan

Kasus tuberkulosis atau TBC di Provinsi Lampung masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. 

Penulis: Riyo Pratama | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama
DETEKSI DINI - Kantor Diskes Lampung, Rabu (15/4/2026). TBC di Lampung masih tinggi, deteksi dini jadi kunci tekan penularan. 

Tribunlampung.co.id, Bandar LampungKasus tuberkulosis (TBC) di Provinsi Lampung masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. 

Berdasarkan data terbaru, estimasi kasus TBC di Lampung pada tahun 2026 mencapai 30.745 kasus.

Dari jumlah tersebut, hingga 31 Maret 2026, baru sekitar 3.498 kasus yang berhasil ditemukan atau sekitar 11 persen.

Sementara itu, sebanyak 3.459 pasien telah menjalani pengobatan.

Hal itu disampaikan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Irman Thamrin. 

Baca Juga Wamenkes Minta Kader Aktif Identifikasi Kasus TBC hingga Dampingi Pasien Selama Pengobatan

"Jika melihat tren tiga tahun terakhir, jumlah estimasi kasus TBC di Lampung relatif stabil. Pada 2024 tercatat 31.302 kasus dengan penemuan 20.129 kasus (65 persen), dan pada 2025 sebanyak 31.245 kasus dengan penemuan 20.373 kasus (65 persen)," kata Irman Thamrin, Rabu (15/4/2026). 

Meski demikian, capaian tersebut masih jauh dari target nasional, di mana minimal 90 persen kasus TBC harus ditemukan setiap tahunnya.

“Penemuan kasus terus meningkat setiap tahun, terutama karena sudah melibatkan fasilitas kesehatan swasta seperti rumah sakit, klinik, dan dokter praktik mandiri,” ujarnya. 

Namun, masih banyak kasus yang belum terdeteksi sehingga berpotensi menularkan ke masyarakat luas.

Deteksi Dini Jadi Kunci

Pemerintah menegaskan bahwa deteksi dini menjadi langkah penting dalam menekan penyebaran TBC

Masyarakat diminta waspada jika mengalami gejala seperti batuk lebih dari dua minggu, batuk berdarah, demam berkepanjangan, keringat malam, hingga penurunan berat badan tanpa sebab.

Selain itu, pemeriksaan medis seperti tes dahak, rontgen dada, dan tes cepat molekuler (TCM) perlu segera dilakukan jika terdapat gejala tersebut.

Skrining juga perlu dilakukan pada kelompok berisiko, termasuk lingkungan padat penduduk, lapas, serta pondok pesantren.

“Tanpa skrining aktif, masih banyak penderita TBC yang tidak terdiagnosis dan berpotensi menularkan ke orang lain,” lanjutnya. 

Penularan Melalui Udara

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved