Berita Lampung

Serangan Sundep dan Tikus pada Tanaman Padi Petani Lampung Tengah Meluas

Serangan hama sundep dan tikus mulai meluas, sementara persoalan klasik seperti distribusi air irigasi yang tidak merata menjadi persoalan petani.

Tayang:
Tribunlampung.co.id/Fajar Ihwani Sidiq
PADI - Petani di Kampung Liman Benawi, Kecamatan Trimurjo menjalankan proses pertanian Musim Tanam II tahun 2026, Rabu (29/4/2026). Sundep dan tikus jadi tantangan petani di musim tanam II tahun 2026.(Fajar Ihwani Sidiq) 

Ringkasan Berita:
  • Sundep dan tikus menjadi tantangan petani padi di musim tanam kedua wilayah Lampung Tengah.
  • Kini serangan hama sundep dan tikus di areal pertanian padi Lampung Tengah mulai meluas.
  • Sementara persoalan klasik seperti distribusi air irigasi yang tidak merata masih menjadi persoalan bagi petani di sejumlah wilayah. 

Tribunlampung.co.id, Lampung Tengah- Lampung Tengah menghadapi tantangan pada musim tanam kedua padi sawah tahun 2026.

Serangan hama sundep dan tikus mulai meluas, sementara persoalan klasik seperti distribusi air irigasi yang tidak merata masih menjadi persoalan bagi petani di sejumlah wilayah.

Kondisi ini terlihat di Kecamatan Punggur, di mana petani di Kampung Sidomulyo harus menyesuaikan waktu tanam karena sistem pembagian air yang bergiliran.

Akibatnya, fase pertanian tidak seragam. Sebagian petani sudah memasuki tahap pemupukan. Sementara yang lain baru mulai tanam, bahkan ada yang masih dalam proses pengolahan lahan.

Di Kampung Notoharjo, Kecamatan Trimurjo, petani yang lebih dulu menanam mulai disibukkan dengan upaya pembasmian hama tikus yang menyerang tanaman muda.

Baca juga: Kronologi Pencurian Sapi di Lampung Tengah, Pelaku Ditangkap di KM 88

Sementara itu, di Kampung Liman Benawi, petani yang menanam pada awal April 2026 terpaksa melakukan tanam ulang akibat serangan hama sundep yang merusak tanaman sejak fase awal pertumbuhan.

Tokoh pertanian Lampung Tengah, Sumarsono menilai bahwa persoalan ini tidak bisa dipandang sebagai masalah teknis semata. Menurutnya, tantangan musim tanam kedua mencerminkan persoalan struktural yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah daerah.

"Masalah pangan bukan sekadar urusan perut, tetapi juga menyangkut kedaulatan dan keberlangsungan peradaban," ujar Sumarsono, Rabu (29/4/2026).

Ia menekankan pentingnya komitmen nyata pemerintah daerah melalui alokasi anggaran yang berpihak pada sektor pertanian. 

Mengingat, sambungnya, sekitar 75 persen masyarakat Lampung Tengah bergantung pada sektor ini, Sumarsono menilai dukungan anggaran menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurut dia, keberpihakan tersebut harus tercermin dalam penyediaan sarana produksi, seperti pupuk dan alat pertanian, serta pendampingan yang intensif di lapangan. Selain itu, stabilitas harga komoditas juga menjadi faktor penting yang perlu dijaga.

Sumarsono juga menyoroti ketidakpastian harga saat panen yang kerap merugikan petani. Ia mendorong pemerintah untuk menjamin harga minimal berdasarkan biaya produksi, sehingga petani tetap memperoleh keuntungan yang layak.

Di sisi lain, persoalan irigasi dinilai menjadi akar dari berbagai permasalahan yang dihadapi petani saat ini. 

Meski Lampung Tengah memiliki sumber air dari Bendungan Batutegi dan Bendungan Way Seputih, distribusi air ke lahan pertanian dinilai belum optimal akibat sedimentasi dan kerusakan saluran.

Akibatnya, kata dia, tidak sedikit sawah yang hanya mengandalkan air hujan atau yang oleh petani disebut sebagai "Wai Langitan". Kondisi ini membuat kepastian masa tanam menjadi tidak menentu dan berisiko terhadap produktivitas.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved