Idul Adha 2026
Siasat Peternak di Lampung Hadapi Sepinya Penjualan, meski Jelang Idul Adha
Jelang Idul Adha, peternak kambing di Lampung Tengah terpaksa jual ternak ke pasar daging harian karena penjualan hewan kurban sepi.
Penulis: Fajar Ihwani Sidiq | Editor: Noval Andriansyah
"Kalau untuk saat ini saya sepi, Mas. Ini karena apa ya, udah banyak yang nyetok (dari luar) mungkin ya. Kambing di wilayah Lampung kalah harga dengan kambing kiriman dari Pulau Jawa," ungkapnya.
Dia mengatakan, tertahannya hewan ternak di dalam kandang otomatis berimbas pada rantai ekonomi peternak di Kecamatan Anak Tuha.
Karena kambing belum terjual, para peternak terpaksa mengeluarkan biaya ekstra untuk perawatan harian yang terus membengkak.
Biaya operasional tersebut meliputi, penyediaan pakan rumput hijau, pembelian konsentrat tambahan, dan pengadaan vitamin dan obat-obatan ternak.
Kondisi ini kian menjepit posisi peternak, mengingat kebutuhan hidup rumah tangga menjelang hari raya juga biasanya mengalami peningkatan.
"Untuk menyiasati keadaan agar tidak terus merugi, sebagian peternak terpaksa beralih strategi dengan menjual ternak mereka ke pasar daging konsumsi harian, bukan lagi sebagai hewan kurban utuh," jelas dia.
"Di pasar tradisional setempat, harga daging kambing saat ini bertengger di angka Rp130.000 per kilogram," ujarnya.
Namun, lanjut Sukis, sistem transaksi untuk kebutuhan jagal ini umumnya menggunakan metode taksiran bobot hidup secara langsung atau sistem jogrok.
"Sebab daging kita mestinya jogrok, Mas. Kita jogrok, juga dicek juga taksiran dia itu berapa kilo, itu penawaran itu. Pembeli juga cenderung hanya memburu kambing berjenis kelamin jantan yang siap potong," jelas Sukis mengenai sistem tawar-menawar di pasar.
Dia menambahkan, melihat iklim usaha peternakan rakyat yang kian terpuruk menjelang momentum Idul Adha 2026, Sukis dan para peternak lokal di Kampung Jaya Sakti berharap ada langkah nyata dari pemerintah daerah.
Peternak mendesak adanya regulasi atau intervensi pasar yang ketat untuk mengontrol masuknya pasokan ternak luar daerah demi menstabilkan harga di tingkat lokal.
"Iya, Mas, bertambah (biaya operasional). Terus apalagi kita kebutuhan kita kan ini kan. Kita harapkan ibaratnya untuk pemerintah bisa inilah, mengatasi lah. Gimana sih harga kambing supaya bisa standar, jadi untuk masyarakat yang melihara enggak terlalu tekor," pungkas Sukis.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/SEPI-PEMBELI-Sukis-salah-seorang-peternak-kambing.jpg)