Berita Lampung
Djuhari Melestarikan Kain Kapal Khas Lampung di Tengah Ancaman Punah
Di tangan Djuhari (53), hal itu menjadi bentuk perjuangan untuk mempertahankan satu warisan budaya Lampung yakni kain kapal.
Penulis: Bintang Puji Anggraini | Editor: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Ringkasan Berita:
- Djuhari (53) melestarikan kain kapal karena khawatir warisan budaya tersebut punah.
- Kecintaannya terhadap budaya daerah inilah yang membuatnya memilih menekuni kain kapal.
- Kain kapal, yang identik dengan motif perahu, manusia, hewan, hingga simbol kehidupan, lebih sering dianggap sekadar kain adat.
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di sebuah sudut rumah sederhana yang berlokasi di Jatimulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, kode pos 35365, suara alat tenun bukan sekadar bunyi kayu beradu namun upaya untuk terus melestarikan budaya daerah.
Di tangan Djuhari (53), hal itu menjadi bentuk perjuangan untuk mempertahankan satu warisan budaya Lampung yakni kain kapal.
“Saya dulu suka menenun, namun saat pandemi covid-19 saya mulai fokus untuk belajar dan melestarikan kain kapal,” ucap Djuhari saat ditemui di kediamannya Senin (25/5/2026).
Ketertarikannya terhadap tenun sebenarnya sudah lama muncul. Namun baru sekitar masa pandemi Covid-19 tahun 2021, ia mulai serius mendalami kain kapal.
Menurutnya saat ini di Lampung sudah tidak ada pengrajin yang melestarikan kain tersebut. Ketertarikannya melestarikan kain kapal murni darinya, sebab Djuhari bukan asli Lampung.
Baca juga: Kisah Seorang IRT di Balik Keindahan Kain Tapis, Rintis Usaha dari Jual 2 Tas
Namun justru kecintaannya terhadap budaya daerah inilah yang membuatnya memilih menekuni kain kapal, motif tenun kuno khas Lampung yang kini nyaris tak memiliki penerus.
“Orang luar Lampung saja tahu kain kapal, tapi masyarakat Lampung sendiri masih banyak yang belum paham,” ujar Djuhari.
Selama ini masyarakat lebih mengenal tapis sebagai identitas kain tradisional Lampung.
Sementara kain kapal, yang identik dengan motif perahu, manusia, hewan, hingga simbol kehidupan, lebih sering dianggap sekadar kain adat yang hanya digunakan saat upacara tertentu.
Padahal menurut Djuhari, kekayaan motif kain kapal jauh lebih kompleks dibanding tenun biasa.
“Kalau tenun lain biasanya motifnya lingkungan sekitar, hewan atau tumbuhan. Tapi kain kapal ini unik. Ada gambar kapal, manusia, perjalanan hidup. Itu yang bikin orang luar tertarik,” katanya.
Belajar Otodidak
Tak ada guru, tak berasal dari keluarga penenun, bahkan tak ada komunitas khusus yang membimbingnya.
Djuhari mengaku belajar menenun kain kapal secara otodidak hanya bermodal belajar dari vidio di internet dan telepon genggam.
“Saya pelototin vidio dari HP berjam-jam. Sampai sekarang pun masih terus belajar,” ujarnya sambil tersenyum.
Proses belajar itu tidak mudah. Djuhari harus memahami sendiri teknik benang lungsi, benang pakan, hingga menghitung pola motif secara manual.
| Duel Dua Pelajar 13 Tahun di Way Halim Bandar Lampung, Korban Ditusuk Pisau Dapur |
|
|---|
| Pemprov Susun Roadmap Elektronifikasi Transaksi 2026-2028, Cegah Kebocoran Anggaran |
|
|---|
| Kepergok Bawa Kabur Motor, RS Diamuk Warga di Labuhan Maringgai |
|
|---|
| Wagub Jihan Soroti Kinerja OPD, Program Pemerintah Harus Tepat Sasaran dan Efektif |
|
|---|
| Satlantas Polres Lampung Timur Tebar Kepedulian, Bantu Lansia dan Warga Kurang Mampu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Di-Tengah-Ancaman-Punah-Djuhari-Bertahan-Lestarikan-Kain-Kapal-Khas-Lampung.jpg)