Lampung Utara
Cara Perajin Tempe di Lampung Utara Bertahan, Kurangi Ukuran hingga Naikkan Harga
Untuk bisa bertahan di masa pandemi Covid-19, berbagai cara dilakukan para perajin tempe di Lampung Utara.
Penulis: anung bayuardi | Editor: Daniel Tri Hardanto
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG UTARA - Untuk bisa bertahan di masa pandemi Covid-19, berbagai cara dilakukan para perajin tempe di Lampung Utara.
Mulai dari mengurangi pembelian kedelai, ukuran tempe, hingga terpaksa menaikkan harga.
Seperti yang dilakukan Sofyan, perajin tempe di Kelurahan Sribasuki, Kecamatan Kotabumi, Lampung Utara.
Ia mengaku, saat ini ia cuma mengolah 75-85 kilogram kedelai setiap kali produksi.
Baca juga: Diskoperindag Lampung Barat Pasrah Harga Kedelai Naik
Sementara sebelum pandemi Covid-19, ia bisa membuat tempe dari 150 kilogram kedelai.
Sofyan mengatakan, kenaikan harga kedelai sejak setahun terakhir membuatnya terpaksa mengurangi kapasitas produksi.
“Harga kedelai naik jadi Rp 10 ribu per kilogram dari Rp 7.000 sebelumnya,” kata Sofyan saat ditemui di kediamannya, Kamis (24/6/2021).
Sofyan biasanya membeli bahan baku kedelai di Bandar Lampung.
“Kedelai belinya dari memesan di Bandar Lampung,” ujar dia.
Baca juga: Manfaatkan Tempe Tak Terjual, Pelaku UMKM di Tanggamus Justru Rutin Produksi Keripik Tempe
Selain itu, Sofyan juga mengurangi ukuran tempe buatannya.
Jika biasanya satu bungkus tempe berbobot 6 gram, saat ini hanya 4-5 gram.
Sofyan sendiri menyediakan kemasan daun pisang dan plastik.
“Sekarang ini untuk cari untung aja sudah pasti kecil. Yang penting bisa balik modal untuk beli kedelai saja sudah syukur,” jelas Sofyan.
Selain mengurangi ukuran, Sofyan juga terpaksa menaikkan harga tempe.
Jika harga semula Rp 5.000 ribu, sekarang jadi Rp 6.000 per bungkus.
( Tribunlampung.co.id / Anung Bayuardi )