Mutiara Ramadan
Ramadan Momen Perbaiki Akhlak
Penulis Stephen R. Covey, mengatakan dalam salah satu poinnya, Begin with the End in Mind atau mulailah sesuatu dengan memikirkan hasil akhirnya.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Teguh Prasetyo
Ustaz Busro Hanif, Penyuluh Agama Kemenag Lampung
SEORANG penulis Amerika yang kita kenal melalui bukunya The 7 Habits of Highly Effective People, yakni Stephen R. Covey, mengatakan dalam salah satu poinnya, Begin with the End in Mind atau mulailah sesuatu dengan memikirkan hasil akhirnya.
Visi terakhir seorang muslim ketika berpuasa adalah mencapai tujuan akhir yang diharapkan, yaitu meningkatkan ketakwaan.
Bagi mereka yang memahami prinsip ini, maka Ramadan akan menjadi momen untuk memperkuat prinsip hidup dengan nilai-nilai kebaikan.
Bulan Ramadan adalah bulan yang subur.
Ibarat tanaman, pada bulan ini cuaca sangat baik, matahari bersinar terang, dan hujan turun menyirami bumi dengan air yang terbaik, sehingga pohon-pohon dapat tumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain.
Begitu pula dengan Ramadan, ini adalah waktu yang tepat untuk memperkuat keimanan, menumbuhkan ketakwaan, dan menghasilkan akhlak yang baik.
Jika diibaratkan sebagai pohon, keimanan adalah batangnya yang kokoh, sedangkan ibadah adalah akarnya yang menghunjam ke dalam tanah.
Hasil akhirnya adalah buah yang manis dan dapat dinikmati oleh orang lain.
Adapun akhlak adalah sikap yang memiliki dua dimensi horizontal dan vertikal.
Secara horizontal, kita diminta untuk menunjukkan akhlak yang baik terhadap sesama manusia dan secara vertikal kita harus memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
Jika kita melihat fenomena hari ini, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai perilaku yang mengkhawatirkan.
Ujaran kebencian, berita hoaks, cyberbullying, perundungan daring, pamer kemewahan, konten sensasional, mengumbar aib orang lain, hingga perilaku toksik semakin banyak terjadi.
Sayangnya, media sosial sering kali justru memperburuk moral dan akhlak seseorang.
Nabi Muhammad SAW bersabda: "As-shiyamu junnah" yang artinya puasa adalah perisai.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.