Mutiara Ramadan
Keutamaan Zikir di Bulan Ramadan
Kata zikir berasal dari bahasa Arab yakni zakarah. Artinya mengingat sesuatu secara spesifik serta memusatkan perhatian kita kepada Allah.
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Daniel Tri Hardanto
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Sering kali kita mendengar tentang makna cinta dalam berbagai konteks.
Dalam sebuah kata mutiara disebutkan: "Man ahabba syai’an aktsara dzikrahu."
Artinya: barang siapa mencintai sesuatu, maka ia akan sering menyebutnya.
Menurut Wakil Sekretaris LDNU Lampung Tito Gustowo, jika seseorang mencintai jabatan, maka ia akan selalu membicarakannya.
“Jika ia mencintai dunia, maka setiap hari ia akan berusaha meraihnya dengan segala kemewahannya,” kata Tito dalam program Mutiara Ramadan yang tayang di akun YouTube Tribun Lampung, Sabtu (15/3/2025).
Tito menjelaskan, ketika seseorang mencintai seseorang secara mendalam, ia akan terus mengingatnya, berbuat baik kepadanya, dan selalu memiliki prasangka baik terhadapnya.
“Hal ini juga berlaku dalam dimensi vertikal, yaitu cinta kita kepada Allah SWT. Seseorang yang benar-benar mencintai Allah pasti memiliki tanda-tandanya. Salah satu tanda utama adalah memperbanyak zikir kepada-Nya,” tambahnya.
Kata zikir berasal dari bahasa Arab yakni zakarah. Artinya mengingat sesuatu secara spesifik serta memusatkan perhatian kita kepada Allah.
Secara terminologis, zikir memiliki dua makna. Makna umum yakni mengingat Allah dalam setiap ibadah yang kita lakukan.
Sedangkan makna khususnya adalah mengingat Allah dengan lafaz-lafaz tertentu yang terdapat dalam Alquran dan hadis, untuk menyucikan dan mengagungkan-Nya, serta menjauhkan diri dari segala bentuk kesirikan.
Zikir adalah simbol ketakwaan seorang hamba kepada Allah.
Dalam Alquran, Allah berfirman: "Fadzkuruni adzkurkum wasykuruli wa la takfurun."
Artinya: Ingatlah kepada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian kufur kepada-Ku. (QS Al-Baqarah: 152)
Dari ayat ini, kita memahami bahwa zikir adalah perintah langsung dari Allah, yang diiringi dengan perintah untuk bersyukur dan larangan untuk kufur.
Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah bersabda yang artinya: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah orang banyak, Aku akan mengingatnya di hadapan makhluk-makhluk yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari." (HR Bukhari dan Muslim)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.