Berita Lampung

Digitalisasi Jadi Senjata Baru Pemprov Lampung Genjot PAD dan Percepat Pelayanan Publik

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan digitalisasi transaksi daerah menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan PAD.

Tayang:
Penulis: Riyo Pratama | Editor: Reny Fitriani
Tribunlampung.co.id/Dokumentasi
DIGITALISASI - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Provinsi Lampung di Mahan Agung, Bandar Lampung, Senin (25/5/2026). Digitalisasi jadi senjata baru Pemprov Lampung genjot PAD. 

Ringkasan Berita:
  • Digitalisasi jadi senjata baru Pemprov Lampung genjot PAD.
  • Sekaligus mempercepat pelayanan publik di Provinsi Lampung.
  • Gubernur Mirza menilai salah satu penyebab rendahnya PAD ialah belum optimalnya digitalisasi transaksi daerah.

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan digitalisasi transaksi daerah menjadi langkah penting untuk mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus mempercepat pelayanan publik di Provinsi Lampung.

Hal itu disampaikan Gubernur Mirza saat memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Provinsi Lampung di Mahan Agung, Bandar Lampung, Senin (25/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Mirza menyoroti besarnya potensi ekonomi Lampung yang belum sepenuhnya mampu dikonversi menjadi pendapatan daerah.

Menurutnya, struktur ekonomi Lampung saat ini masih ditopang sektor primer seperti pertanian, perkebunan, dan kehutanan.

“Sektor primer menyerap hampir dua juta tenaga kerja dan menjadi sumber penghidupan bagi sekitar enam hingga tujuh juta masyarakat Lampung,” ujar Mirza.

Baca Juga: Pemprov Susun Roadmap Elektronifikasi Transaksi 2026-2028, Cegah Kebocoran Anggaran

Ia mengungkapkan nilai komoditas sektor primer Lampung diperkirakan mencapai hampir Rp 150 triliun, dengan total perputaran uang sepanjang 2025 mencapai Rp 528 triliun.

Namun, PAD Lampung disebut baru berada di kisaran Rp 8,5 triliun hingga Rp 10 triliun atau belum mencapai lima persen dari total aktivitas ekonomi daerah.

“Masyarakat ingin fasilitas publik lebih baik, mulai dari sekolah, jalan hingga pusat pelayanan ekonomi. Tetapi kemampuan fiskal daerah masih terbatas,” katanya.

Mirza menilai salah satu penyebab rendahnya PAD ialah belum optimalnya digitalisasi transaksi daerah yang menyebabkan potensi kebocoran pendapatan masih terjadi.

Ia mencontohkan sektor pariwisata Lampung pada 2024 yang mencatat sekitar 27 juta wisatawan dengan perputaran ekonomi mencapai Rp 55,5 triliun.

Dari angka tersebut, potensi tambahan pajak PB1 diperkirakan mencapai Rp1,6 triliun, tetapi realisasi penerimaan pajaknya masih di bawah Rp 700 miliar.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemprov Lampung kini tengah mengembangkan super app “Lampung-In” yang akan mengintegrasikan berbagai layanan pemerintah.

Aplikasi tersebut nantinya mencakup pembayaran PAD dan pajak daerah, layanan Samsat, hingga sistem pelaporan masyarakat.

“Selain meningkatkan pendapatan daerah, digitalisasi juga diharapkan mampu mempercepat pelayanan publik dan respons pemerintah terhadap keluhan masyarakat,” ujarnya.

Sumber: Tribun Lampung
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved