Berita Terkini Nasional

Australia Batasi Medsos, Mahasiswa Justru Incar Pacar Kutu Buku dan HP Jadul

Para murid sekolah dasar di Australia mengaku belum tahu dan belum mengenal dunia media sosial. Hal ini karena minimal 16 tahun.

Tayang:
TRIBUNNEWS/Domu Damiannus Ambarita
BELAJAR BUDAYA INDONESIA – Suasana murid-murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026). Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Melibatkan guru asal Indonesia, dan asli Australia. (Tribun Network/Domu D. Ambarita) 

Ringkasan Berita:
  • Para murid sekolah dasar di Australia mengaku belum tahu dan belum mengenal dunia media sosial. 
  • Hal ini lantaran undang-undang membatasi usia memiliki akun medsos, yakni minimum 16 tahun.
  • Sementara di kalangan mahasiswa, muncul kesadaran baru menjaga kesehatan mental dengan mencegah kecanduan smartphone, beralih ke telepon zaman dulu, ponsel jadul/dumbphone, dan gemar membaca buku berbahan kertas.

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Pagi itu, langit cerah dan cuacanya dingin sekitar 12 derajat Celsius. Sekira pukul 09.00 waktu Perth, sama dengan Waktu Indonesia Tengah (Wita), sejumlah wartawan delegasi Australia-Indonesia Senior Editors Program, menumpang minibus Mercedes-Benz. 

Kunjungan ini difasilitasi Kedubes Australia untuk Indonesia di Jakarta. Delegasi mendatangi Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri. Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6.

Adapun letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Perjalanan membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.

Di ruangan kelas belajar, terdapat 13 murid, gabungan kelas 3 sampai kelas 6. Warna kulit mereka beragam, ada putih ala ras Eropa, ada juga agak legam khas India, juga sawo matang.  

Nuansa Indonesia terasa kental di ruangan. Awakan (badan wayang) khas Jawa tergeletak di meja. Miniatur becak di meja lain. Alat musik khas Sunda yang terbuat dari bambu, angklung di meja lainnya. 

Baca juga: Australia Jadi Destinasi Favorit Mahasiswa RI, 20 Ribu Orang Kuliah di Negeri Kanguru

Gambar-bambar sosok-sosok pewayangan berupa kartun digunting, peta wilayah Indonesia, slogan-slogan Indonesia terpampang di empat sisi dinding.

Tempelan tulisan-tulisan seperti ‘Halo, Pak, Bu’. ‘Siapa nama kamu?’ di bawahnya basaha Inggris, ‘What is your name?’. ‘Nama Saya Bob. My name is Bob’. Ada pula ucapan salam, ‘Selamat malam’, ‘Selamat sore’, pun poster ‘Ayo berhitung’, dan ‘Nama-nama hari’.  J

uga mengenai alam. ‘Air, water’, ‘api, fire’, ‘bumi, earth’, ‘angin, wind’. ‘Bagus’, ‘Baik sekali’, ‘menarik’, ‘fantastik’, ‘luar biasa’, ‘hebat’, dan masih banyak lagi.

Gambar orang sedang mengayuh becak, gambar penari, kerajinan batik, topeng khas Bali. Lembar-lembar kertas mewarnai gambar satwa endemik Australia maupun asal Indonesia disertai kesan-pesan dalam Bahasa Inggris, kemudian dibubuhi nama murid SD Negeri dari Bandung pun ditempeli di kaca. Tulisian sahabat pena.

Sekolah Dasar Negeri Bertram Austalia rupanya bermitra dengan SD Negeri  023 Pajagalan Kota Bandung, Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat.

Murid-murid lalu memperkenalkan diri menggunakan Bahasa Indonesia. Ya, mereka praktik percakapan Bahasa Indonesia. Sebagian mereka mengaku pernah liburan ke Pulau Bali, dan mempraktikkan Bahasa Indonesia. 

Austin, murid kelas 6, misalnya, mengucapkan ‘terima kasih’ kepada pelayan restoran atau hotel. Juga mengajak kenalan anak-anak asli Bali.

Ada pun Mia, pelajar kelas 5, bercerita senang belajar budaya dan bahasa Indonesia. Gadis cilik ini cerita, gemar bermain sepak takraw, cabang olahraga perpaduan sepakbola dan voly. Bahan bolanya, berupa anyaman atau gulungan rotan dibuat bulat menyerupai bola.

Saat sesi tanya jawab, ada wartawan Indonesia yang bertanya tentang, apakah murid-murid sudah terbiasa menggunakan media sosial? Austin menjawab, dia dan murid SD lainnya belum memiliki akun media sosial.

Alasannya, undang-undang di negaranya membatasi usia, minimum 16 tahun, baru boleh menggunakan medsos.

Tidak Kenal Medsos

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved