Berita Terkini Nasional

Australia Batasi Medsos, Mahasiswa Justru Incar Pacar Kutu Buku dan HP Jadul

Para murid sekolah dasar di Australia mengaku belum tahu dan belum mengenal dunia media sosial. Hal ini karena minimal 16 tahun.

Tayang:
TRIBUNNEWS/Domu Damiannus Ambarita
BELAJAR BUDAYA INDONESIA – Suasana murid-murid Bertram Primary School, semacam sekolah dasar negeri, sedang belajar budaya Indonesia. Selain praktik Bahasa Indonesia, mereka mengenali wayang, becak, batik dan lainnya, Senin (18/5/2026). Sekolah ini mendidik siswa Taman Kanak-kanak hingga Kelas 6. Letaknya di pinggiran Kota Bertram, arah selatan Perth, Australia Barat. Melibatkan guru asal Indonesia, dan asli Australia. (Tribun Network/Domu D. Ambarita) 

Kini, fenomena sosiologis dan psikologis, ada kesadaran dan kekhawatiran akan dampak kecanduan ponsel mengakibatkan kelelahan kognitif, kecemasan, gangguan kesehatan mental, dan hilangnya batas antara kehidupan personal dan profesional.

Muncullah kontra-tren gerakan minimalis digital di kalangan generasi muda, Genenerai Z dan Milenial, sebagai respons terhadap kejenuhan akut akibat disrupsi smartphone.

Dulu, dunia memuji smartphone karena multitasking dan mampu menyatukan (konvergensi) belasan fungsi alat tunggal seperti jam, alarm, kamera, pemutar musik. Kini, arus balik, anak muda memisahkan fungsi-fungsi tersebut (divergensi) lewat teknologi satu fungsi.

Bahfen mengakui, memiliki riset tentang perilaku remaja yang semakin gemar membaca buku. “Mereka disebut masuk dalam era Booktok, sejak pandemic Covid-19, lima tahun lalu,” ujar Bahfen. 

Toko Buku Kembali Laris

Fenomena BookTok muncul di Australia, merujuk pada komunitas pencinta buku di dalam platform medsos TikTok yang membagikan ulasan, rekomendasi, hingga reaksi emosional saat membaca.

Gejala BookTok mulai masuk dan mengakar di Australia pada pertengahan hingga akhir tahun 2020, tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. Pemicunya adalah adanya kebijakan pembatasan wilayah yang ketat berupa isolasi (lockdown) di berbagai negara bagian, terutama Melbourne dan Sydney.

Pembatasan relasi memaksa remaja dan dewasa muda menghabiskan waktu di rumah. TikTok menjadi pelarian utama, mempertemukan para pembaca lokal yang merasa kesepian.

Awal 2021, para penjual buku eceran di Australia mulai menyadari adanya pola ganjil: buku-buku lama yang sudah terbit bertahun-tahun lalu tiba-tiba habis dipesan dalam semalam karena direkomendasikan oleh pembuat konten (BookTokers) luar negeri maupun lokal Australia.

Mengutip Sydney Herald Morning, penerbit pun bersiasat menghadapi fenomena BookTok, tersebut. “BookTok adalah tentang tren,” kata penjual buku Dymocks, Josh Hortinela. Ia sepenuhnya sependapat dengan suara lokal, dan panduan referensi berjalan untuk cerita romantis dan kriminal yang sedang naik daun. 

“Anda dapat melihat tren muncul di BookTok, dan itu memengaruhi orang-orang yang bertanya tentangnya di toko. Dulu orang datang dan meminta rekomendasi untuk romansa paranormal, tetapi sekarang mereka meminta trope.

Mereka akan berkata, saya mencari trope 'hanya satu tempat tidur', atau buku ‘musuh-menjadi-kekasih’. Itu pasti ada hubungannya dengan bagaimana buku dipasarkan di TikTok,” katanya.

Caitlin Toohey, eksekutif pemasaran di HarperCollins Australia, mengatakan penerbit “memperhatikan beberapa judul romantis yang lebih ringan yang mungkin belum banyak ditayangkan untuk sementara waktu, karena itulah yang diinginkan orang ... [TikTok] adalah tempat baru untuk menjangkau pembaca baru.”

Puncak fenomena BookTok di Australia tercapai pada rentang tahun 2022 hingga 2023. Pada periode ini, BookTok tidak lagi sekadar subkultur internet tersembunyi, melainkan telah mendikte pasar arus utama (mainstream).

Jaringan toko buku raksasa Australia seperti Dymocks, QBD Books, serta toko independen Readings, laris manis. Mereka memampang meja pajangan khusus di bagian depan toko dengan papan penanda besar bertulis "As Seen on BookTok" atau "Trending on TikTok".

Buku It Ends with Us karangan Colleen Hoover bahkan sempat merajai daftar bestseller fiksi di Australia selama berbulan-bulan, mengalahkan buku-buku baru rilisan lokal. Pada puncaknya, penerbit besar Australia mulai mengontrak influencer BookTok lokal sebagai pembicara di festival-festival literasi besar, seperti Melbourne Writers Festival, untuk menarik audiens Gen Z.

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved