Mahasiswa FISIP Unila Meninggal

BREAKING NEWS - 17 Tersangka Didampingi 3 Kuasa Hukum dalam Kasus Kematian Mahasiswa FISIP Unila

BREAKING NEWS - 17 Tersangka Didampingi 3 Kuasa Hukum dalam Kasus Kematian Mahasiswa FISIP Unila.

Tribunlampung.co.id/R Didik Budiawan C
Ilustrasi Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro. BREAKING NEWS - 17 Tersangka Didampingi 3 Kuasa Hukum dalam Kasus Kematian Mahasiswa FISIP Unila. 

“Dari 17 (tersangka) itu, 15 orang yang diduga melakukan pemukulan, dan yang 2 karena kelalaiannya, sehingga mengakibatkan orang meninggal,” jelas M Barly Ramadhany.

Disinggung apakah aka nada tersangka lain, M Barly Ramadhany mengatakan, masih akan melakukan penyidikan lebih dalam.

“Bisa jadi (tersangka lain), nanti kami perdalam lagi,” ucap M Barly Ramadhany.

Kirim 2 Personel

M Barly Ramadhany juga mengungkapkan, untuk membantu Polres Pesawaran dalam melakukan penyidikan, Polda Lampung mengirimkan 2 personelnya dari tim teknologi informatika (TI).

“Karena ini (penyidikan) masih terus berjalan, dan kami juga menggunakan (tim) IT kami, dari Polda Lampung yang mem-backup di sana (Polres Pesawaran) ada 2 personel, sudah 3 hari berada di sana,” kata M Barly Ramadhany, saat diwawancarai awak media di Polda Lampung, Rabu, 9 Oktober 2019.

Ditugaskannya 2 personel tersebut, kata M Barly Ramadhany, untuk melihat, apakah ada petunjuk-petunjuk lain, baik itu rekaman atau mungkin juga ada video-video yang dibuat oleh panitia tanpa disadari.

Berencana Periksa Wakil Dekan III FISIP Unila 

Dirkrimum Polda Lampung Kombes M Barly Ramadhany mengungkapkan, tidak menutup kemungkinan penyidik juga akan meminta keterangan dari pihak Dekanat FISIP Unila.

Hal tersebut disampaikan M Barly Ramadhany saat ditanyakan apakah penyidik juga akan memeriksa pihak dari fakultas atau universitas, terutama Wakil Dekan III FISIP Unila, yang diduga memberi izin pelaksanaan Diksar.

“Nanti akan kami periksa juga (wakil dekan III/yang memberi izin),” ujar M Barly Ramadhany, saat diwawancarai awak media di Polda Lampung, Rabu, 9 Oktober 2019.

Menurut  M Barly Ramadhany, hal tersebut akan dilakukan pendalamaan di penyidikan lebih lanjut.

"Ini kan baru meningkat ke penyidikan, perbuatan masing-masing (17 orang), tetapi apakah ada izin atau tidak, nanti kami perdalam di penyidikan,” kata M Barly Ramadhany.

Reporter Tribunlampung.co.id masih mencoba mengonfirmasikan ke pihak terkait, rencana penyidik memeriksa Wakil Dekan III FISIP Unila.

Saat dikonfirmasi, Rabu, 9 Oktober 2019 sore, melalui ponsel, nomor HP Wakil Dekan III FISIP Unila dalam kondisi tidak aktif.

17 Tersangka

Sebelumnya, Polres Pesawaran akhirnya menetapkan 17 mahasiswa FISIP Unila sebagai tersangka kasus kematian Aga Trias Tahta (19).

Aga Trias Tahta, merupakan mahasiswa FISIP Unila yang meninggal saat Pendidikan Dasar (Diksar) UKM Cakrawala pada Minggu 29 September 2019 lalu.

Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro mengatakan, total ada sekitar 19 orang yang diperiksa oleh penyidik dan 17 orang ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu, kata Popon, terdapat dua orang yang tidak terlibat dan diperkenankan untuk pulang.

Keduanya, jelas Popon, adalah Ana dan Ayubi.

"Keduanya tercantum dalam susunan panitia namanya, cuma tidak pernah hadir," ucap Popon, Selasa, 8 Oktober 2019.

 BREAKING NEWS - 17 Mahasiswa Ditetapkan Tersangka Kasus Mahasiswa FISIP Unila Meninggal

 BREAKING NEWS - 17 Mahasiswa Tersangka, Polisi Pastikan Tak Ada Keterlibatan Alumni: Tapi Senior

Sebelumnya, Popon mengatakan, ke-17 orang yang ditetapkan sebagai tersangka tersebut memiliki peran masing-masing.

"Ada yang melakukan pengroyokkan, dan ada yang karena kelaliannya sehingga ditetapkan tersangka," ungkap Popon, Selasa 8 Oktober 2019.

Pasal yang akan disangkakan terhadap tersangka pengroyokan, kata Popon adalah pasal 170 dan/atau pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, dengan ancaman hukuman paling lama 12 tahun, apabila mengakibatkan orang meninggal dunia.

Kemudian, lanjut Popon, terhadap tersangka kelalaian, disangkakan pasal 359 dan/atau pasal 360 KUHP, barang siapa karena kesalahannya menyebabkan matinya orang dihukum penjara selama-lamanya lima tahun atau kurungan selama-lamanya satu tahun.

Tak Ada Alumni

Sebelumnya, Polres Pesawaran memastikan tidak ada keterlibatan alumni UKM Cakrawala dalam 17 mahasiswa FISIP Unila yang ditetapkan sebagai tersangka kasus kematian Aga Trias Tahta (19).

Aga Trias Tahta, merupakan mahasiswa FISIP Unila yang meninggal saat Pendidikan Dasar (Diksar) UKM Cakrawala pada Minggu 29 September 2019 lalu.

Kapolres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro memastikan, dari 17 tersangka yang sudah ditetapkan tersebut, tak ada keterlibatan alumni UKM Cakrawala

"Dapat saya jelaskan, ternyata setelah kami dalami, dari tadi (Selasa) siang, (keterlibatan) alumni itu tidak ada, tetapi senior yang masih berstatus sebagai mahasiswa," jelas Popon Ardianto Sunggoro, Selasa, 8 Oktober 2019 malam.

Sebelumnya, Popon Ardianto Sunggoro mengungkapkan, pihaknya telah melakukan gelar perkara setelah pada Selasa 8 Oktober 2019 siang, beberapa panitia diksar telah diperiksa sebagai saksi.

"Jadi malam tadi, sekira pukul 19.00 WIB, kami sudah melakukan gelar perkara untuk menetapkan tersangka dan kami sudah menetapkan tersangka sejumlah 17 orang panitia diksar," kata Popon Ardianto Sunggoro, Selasa 8, Oktober 2019, malam.

Dalami pemeriksaan

Penyidik Kepolisian Resor (Polres) Pesawaran kembali mendalami kasus tewasnya Aga Trias Tahta (19).

Aga Trias Tahta, merupakan mahasiswa FISIP Unila yang meninggal saat Pendidikan Dasar (Diksar) UKM Cakrawala pada Minggu 29 September 2019 lalu.

Kepala Polres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro mengungkapkan, pihaknya kembali melakukan pemeriksaan terhadap panitia pendidikkan dasar (diksar) UKM Pecinta Alam, Cakrawala, Selasa (8/10/2019).

Sebelumnya, Senin (7/10/2019), penyidik telah memeriksa sebanyak 17 panitia diksar.

"Hari ini (Selasa) kami periksa lagi, karena masih butuh pendalaman," ujar Popon, Selasa (8/10/2019).

Popon mengungkapkan, dalam pemeriksaan sebelumnya diagendakan ada sebanyak 17 panitia dan dua alumni (senior) Cakrawala yang diambil keterangannya.

Akan tetapi, kata Popon, satu dari 17 panitia dan satu dari dua alumni belum menghadiri pemeriksaan.

Oleh karena itu, lanjut Popon, pihaknya melayangkan surat panggilan kembali kepada yang belum hadir.

Sementara itu, keluarga Aga menginginkan supaya polisi bisa mengusut dan mendapati pelaku yang mengakibatkan korban hingga meninggal dunia.

"Supaya cepat ditemukan pelakunya, dan diadili dengan seadil-adilnya," ungkap kakak almarhum, Gani Dewantara (27).

Diketahui Aga Trias Tahta tewas saat mengikuti diksar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam FISIP Universitas Lampung.

Aga tewas dengan kondisi tubuh mengalami luka dan lebam.

Keadaan tersebut, diungkapkan oleh ayahnya Arga, Denny Muhtadin (53) saat ditemui di rumah duka, Senin (30/9/2019) siang usai pemakaman.

Denny menceritakan, Aga sempat pamit kepadanya dan ibunya, Rosdiana (52) akan kemping bersama rekan-rekannya.

Ternyata Aga mengikuti pendidikkan dasar (diksar) masuk organisasi pencinta alam.

Selama empat hari Aga mengikuti kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) pecinta alam tersebut, Kamis, 26 September 2019 hingga Minggu 29 September 2019.

Namun setelah tiba di hari yang ditunggu untuk menjemput putranya, Denny tidak juga memperoleh kabar.

Ia pun tidak mempunyai firasat, karena selalu mendoakan yang baik untuk anaknya.

Ironisnya ketika nada dering ponselnya berbunyi, justru dari Rumah Sakit Bumi Waras (RSBW), yang menginfokan putranya Aga dalam perawatan, Minggu, 29 September 2019, pukul 14.00 WIB.

Denny mengajak istrinya, Rosdiana ke RSBW Bandar Lampung. Setibanya di RS, justru pihak RS meminta maaf karena sengaja tidak menerangkan apa yang sebenarnya terjadi pada Aga.

Bahwa Arga sudah meninggal.

Pihak RSBW menginformasikan bahwa Aga tiba di rumah sakit sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Dekanat Bekukan UKM Pecinta Alam Cakrawala

Dekanat Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Lampung (Unila) akhirnya membekukan Unit Kegiatan Mahasisiwa Fakultas (UKMF) Pencinta Alam Cakrawala.

Hal tersebut disampaikan oleh Dekan FISIP Unila Prof Syarif Makhya, Senin, 7 Oktober 2019.

Pembekuan UKMF Pecinta Alam Cakrawala tersebut merupakan buntut dari kasus tewasnya mahasiswa FISIP Unila, Aga Trias Tahta, saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) UKMF Pencinta Alam Cakrawala pada Minggu 29 September 2019 lalu.

Dekanat FISIP Unila, kata Syarif Makhya, akan memberikan surat edaran (SE) kepada seluruh mahasiswa kalau pihaknya membekukan UKMF Pecinta Alam Cakrawala.

"Kami sengaja menghentikan semua kegiatan yang dilakukan oleh UKMF Pecinta Alam Cakrawala ini sampai dengan waktu yang tidak ditentukan," kata Syarif Makhya, Senin 7 Oktober 2019.

Syarif Makhya menegaskan, hal tersebut merupakan upaya FISIP Unila agar kasus serupa tidak terulang kembali.

Syarif Makhya pun memastikan, sesuai arahan Rektor Unila, mahasiswa yang terkait dengan kasus tersebut dan terbukti bersalah, akan diberhentikan alias drop out (DO).

Dalami Keterangan Panitia Diksar

Penyidik Polres Pesawaran masih terus melakukan pendalaman untuk menentukan siapa yang bakal menjadi tersangka dalam perkara tewasnya Aga Trias Tahta (19).

Aga Trias Tahta, merupakan mahasiswa FISIP Unila yang meninggal saat Pendidikan Dasar (Diksar) UKM pencinta alam Cakrawala pada Minggu 29 September 2019 lalu.

Kepala Polres Pesawaran AKBP Popon Ardianto Sunggoro mengungkapkan, pendalaman akan dilakukan dengan memeriksa panitia dan alumni.

"Setelah beberapa pemeriksaan yang kami lakukan, baru kami bisa menyimpulkan siapa-siapa yang nanti jadi tersangka ke depannya," ujar Popon Ardianto Sunggoro, Senin 7 Oktober 2019.

Terkait dengan jumlah tersangka yang akan ditetapkan, Popon Ardianto Sunggoro mengatakan, masih akan melihat peran masing-masing seperti apa.

Oleh karena itu, lanjut Popon Ardianto Sunggoro, pihaknya memerlukan pendalaman dari pemeriksaan pihak panitia.

Termasuk apakah kegiatan diksar tersebut telah memenuhi Standar Operasional Prosedur (SOP), Popon mengaku masih akan mendalami SOP yang dimiliki UKM Cakrawala serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) UKM.

Salah satunya, kata Popon Ardianto Sunggoro, persyaratan menggelar diksar tersebut adalah memuat ketentuan sehat jasmani dan rohani.

"Nah, itu (ketentuan sehat jasmani dan rohani) ada atau tidak, kalaupun ada, konteksnya seperti apa," ungkap Popon Ardianto Sunggoro.

Sementara itu, sejumlah 10 orang panitia Diksar UKM Cakrawala FISIP Universitas Lampung diperiksa penyidik Polres Pesawaran, 7 Oktober 2019.

Sesuai agenda, ada sebanyak 9 orang lagi yang bakal menjalani pemeriksaan.

Yaitu, tujuh orang panitia dan dua orang alumni.

Selama hadir di Mapolres Pesawaran, panitia diksar didampingi oleh kuasa hukum, Munadi dari Kantor Pengacara Yudi Yusnandi dan rekan.

Munadi mengatakan, bila pihak panitia diksar kooperatif dengan kepolisian.

Munadi mengungkapkan, bahwa panitia telah melaksanakan standar saat diksar.

Diksar tersebut, kata Munadi, untuk melatih fisik dan mental peserta.

Munadi menambahkan, bila dalam diksar tersebut tidak ada penganiayaan atau kekerasan sebagaimana berita yang beredar.

Adapun hukuman dalam diksar, kata Munadi, hanya hukuman biasa seperti pushup, skotjam, dan situp.

Viral Curhat Sedih Ibu Almarhum

Sebelum menguburkan anaknya Aga Trias Tahta (19)Rosdiana (52) menulis surat berisi permohonan maaf.

Aga Trias Tahta, merupakan mahasiswa FISIP Unila yang meninggal saat diksar UKM pencinta alam Cakrawala pada Minggu (29/9/2019).

Surat permintaan maaf ibunda Aga pun beredar di media sosial Facebook sejak Selasa (1/10/2019).

Surat tersebut diunggah di akun Facebook Eka Thirta Maharani.

 Mahasiswa FISIP Unila Tewas Saat Diksar, Disiram Saat Pingsan hingga Polisi Belum Ungkap Tersangka

Berikut, isi surat ibunda Aga yang ditulis tangan.

Pemakaman jenazah Aga dan surat ibunya yang beredar di Facebook. Mahasiswa FISIP Unila Meninggal, Viral Surat Curhat Sedih Ibu Almarhum, Ditulis Jelang Makamkan Anak.
Pemakaman jenazah Aga dan surat ibunya yang beredar di Facebook. Mahasiswa FISIP Unila Meninggal, Viral Surat Curhat Sedih Ibu Almarhum, Ditulis Jelang Makamkan Anak. (Kolase Facebook Eka Thirta Maharani/Tribunlampung.co.id/Robertus Didik)

AGA..
Ibu minta maaf karena dengan senang hati membantu Aga pergi ke tempat pembantaian, tak ada jurang 15 meter yang telah diakui sebagai tempatmu terjatuh, yang ada tangan-tangan setan yang mencabik-cabik tubuhmu, menyeretmu, memaksa kerikil dan batu untuk sama-sama membuat parutan di sekujur tubuhmu, namun luka-lukamu tak membuat mereka merasa ngilu.

AGA..
Mata mereka terbuka tapi mata hatinya tertutup, banyak yang mau bicara tetapi mereka dibungkam. Semua cari selamat. Mereka yang melihat tapi diam dengan bangga menjadi temannya.

AGA..
Allah tidak buta, tidak pula tidur, dia melihat semua, saat mereka merekayasa mengarang cerita penyebab kematianmu.

Ferdi, Sintia dan Bintang. Kalian cuma boneka karena kalian tidak punya hati, boneka tidak akan pernah menjadi seorang Ayah atau seorang Ibu..

AGA..
Tidurlah dengan tenang, tunggu hari peradilan, Insya Allah goresan luka dan titisan darahmu menghapus dosa-dosamu..

Di dunia, keluargamu berjuang mencari keadilan bagimu. Seandainya kami kalah tapi AGA pasti menang..

Konfirmasi Keluarga

Reporter Tribunlampung.co.id menghubungi keluarga Aga Trias Tahta yang beredar viral di media sosial Facebook sejak Selasa (1/10/2019) tersebut.

Kakak ipar korban, yang juga menantu Rosdiana, Amin Abdulrahman memastikan keaslian surat tersebut.

"Sebelum almarhum (Aga Trias Tahta) dibawa ke pemakaman, ibu (Rosdiana) masuk kamar, terus corat-coret itu," cerita Amin Abdulrahman, Jumat 4 Oktober 2019.

Amin Abdulrahman, yang merupakan suami dari Eka Thirta Maharani, kakak Aga, kemudian mengunggah foto dari surat yang dibuat Rosdiana tersebut ke Facebook hingga kemudian viral.

Menurut Amin, setelah ibu mertuanya masuk kamar, ia lalu keluar sudah membawa secarik kertas berisi surat tersebut.

"Kemudian, dia (Rosdiana) keluar lalu (surat) dikasihkan ke istri saya, lalu saya foto, saya post (unggah)," ungkap Amin Abdulrahman.

Menurut Amin, tulisan itu merupakan curahan hati seorang ibu yang ditinggal anak tercinta untuk selamanya.

 Mahasiswa FISIP Unila Meninggal, Viral Surat Curhat Sedih Ibu Almarhum, Ditulis Jelang Makamkan Anak

 Mahasiswa Fisip Unila Tewas Saat Diksar, Dekan: Keterlibatan Alumni untuk Diksar Tidak Dibenarkan

Kepergian Aga, lanjut Amin Abdulrahman, membuat Rosdiana syok hingga menjadi lebih pendiam.

Kondisi Rosdiana, imbuh Amin Abdulrahman, masih lemah, sehingga tidak memungkinkan bertutur kata.

Hal itu, imbuh Amin Abdulrahman, membuat Rosdiana lebih banyak mencurahkan perasaannya lewat tulisan-tulisan. (Tribunlampung.co.id/Bayu Saputra/R Didik Budiawan C)

Penulis: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Editor: Noval Andriansyah
Sumber: Tribun Lampung
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved