Berita Lampung
Target Ambisius Bangga Kencana 2026, Lampung Masih Dihadang Pekerjaan Rumah Serius
Di balik dorongan percepatan program Bangga Kencana 2026, sejumlah indikator kinerja di Provinsi Lampung justru menunjukkan PR yang belum selesai
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: soni yuntavia
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Di balik dorongan percepatan program Bangga Kencana 2026, sejumlah indikator kinerja di Provinsi Lampung justru menunjukkan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.
Hal ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakerda) Bangga Kencana 2026 yang digelar di Bandar Lampung, Selasa (28/4/2026).
Kepala Perwakilan BKKBN Lampung, Soetriningsih, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Namun, ia juga mengakui beberapa target strategis belum tercapai.
Angka kelahiran total (TFR) misalnya, masih berada di angka 2,25 atau di atas target 2,2. Sementara itu, angka kelahiran remaja usia 15–19 tahun tercatat 23,5, jauh dari target 17,9. Usia kawin pertama perempuan pun masih di bawah target, yakni 21,1 tahun dari target 22,4 tahun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kependudukan di Lampung tidak hanya soal program, tetapi juga berkaitan erat dengan faktor sosial, budaya, dan edukasi masyarakat.
Di sisi lain, upaya penurunan stunting masih menjadi fokus utama. BKKBN mengandalkan pendekatan berbasis keluarga dengan sasaran kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
Meski capaian intervensi makanan bergizi diklaim telah melampaui target, tantangan ketepatan sasaran dan keberlanjutan program tetap menjadi sorotan.
Soetriningsih menyebut keunggulan data keluarga berbasis by name by address sebagai instrumen penting. Namun, efektivitas pemanfaatan data tersebut di lapangan masih bergantung pada koordinasi antarinstansi.
“Data sudah tersedia, tapi implementasi di lapangan harus benar-benar terintegrasi,” menjadi catatan yang mengemuka dalam forum tersebut.
Selain itu, tren peningkatan jumlah lansia di Lampung juga mulai menjadi perhatian serius. Dalam setahun terakhir, jumlahnya naik sekitar 7,8 persen. Meski telah dibentuk 46 sekolah lansia, cakupan layanan dinilai masih terbatas dibandingkan kebutuhan yang terus berkembang.
Dari sisi anggaran, realisasi Dana Alokasi Khusus (DAK) 2025 mencapai 91,15 persen, sementara Bantuan Operasional Keluarga Berencana (BOKB) masih di angka 78,33 persen. Angka ini menunjukkan masih adanya ruang perbaikan dalam optimalisasi penyerapan anggaran.
Tahun 2026 disebut sebagai momentum penting untuk evaluasi awal RPJMN. Namun, tanpa inovasi dan perbaikan eksekusi program di tingkat daerah, target yang dicanangkan berpotensi kembali meleset.
Rakerda kali ini pun tidak hanya menjadi ajang koordinasi, tetapi juga pengingat bahwa pembangunan keluarga di Lampung masih menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan.
| Direktur CV Lembak Indah Klaim Tak Tahu Soal Pencairan Proyek SPAM: Tender Tidak Ikut |
|
|---|
| Pemprov Lampung Didesak Realisasikan Pengganti GOR Saburai |
|
|---|
| Eks Gubernur Lampung Arinal Djunaidi Sudah 7 Jam Diperiksa Kejati |
|
|---|
| Kemenag Bandar Lampung Gembleng 40 ASN agar Lebih Humanis |
|
|---|
| Wacana Pembatasan Uang Tunai Saat Pemilu, Begini Tanggapan BI Lampung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/BKKBN-menekankan-pentingnya-sinergi-lintas-sektor-dalam-menangani-stunting-di-Lampung.jpg)