Harga BBM di Lampung
Harga Pertamax Naik, Pelaku Wisata Lampung: Dampaknya Masih Terkendali
Pelaku usaha pariwisata di Lampung menilai dampak kenaikan harga BBM tersebut belum mengganggu aktivitas wisata secara signifikan.
Penulis: Dominius Desmantri Barus | Editor: Robertus Didik Budiawan Cahyono
Ringkasan Berita:
Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung- Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter yang berlaku sejak 10 Juni 2026 mulai dirasakan berbagai sektor, termasuk industri perjalanan wisata.
Baca juga: Harga Pertamax Naik, Hiswana Migas Lampung Ingatkan Potensi Penyimpangan BBM Bersubsidi
Meski demikian, pelaku usaha pariwisata di Lampung menilai dampak kenaikan harga BBM tersebut masih dalam batas yang dapat dikelola dan belum mengganggu aktivitas wisata secara signifikan.
Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) Lampung, Adi Susanto mengatakan sektor yang paling terdampak dari kenaikan harga Pertamax adalah transportasi, mengingat operasional perjalanan wisata sangat bergantung pada penggunaan bahan bakar.
"Sudah pasti ada peningkatan biaya operasional perjalanan wisata, terutama pada sektor yang berkaitan langsung dengan penggunaan bahan bakar. Namun besaran kenaikannya masih relatif terkendali dan belum mengganggu aktivitas wisata secara signifikan," kata Adi Susanto yang juga pemilik Adiyatama Tour & Travel, Minggu (14/6/2026).
Menurut dia, wisatawan umumnya lebih mengutamakan kenyamanan dan kepuasan selama perjalanan dibandingkan perubahan harga yang masih dalam batas wajar.
Adi menjelaskan, komponen biaya yang paling terdampak adalah transportasi, baik bus pariwisata, kendaraan travel maupun armada operasional lainnya. Sementara biaya penginapan dan konsumsi masih relatif stabil.
"Kemungkinan ada penyesuaian pada sektor lain karena biaya distribusi dan logistik ikut naik, tetapi saat ini penginapan dan makanan masih relatif stabil," ujarnya.
Terkait harga paket wisata, Adi mengatakan, sebagian besar biro perjalanan masih berupaya mempertahankan harga yang telah dipasarkan kepada konsumen.
"Kami melakukan berbagai efisiensi agar konsumen tetap mendapatkan harga yang kompetitif. Namun jika kenaikan biaya operasional berlangsung dalam jangka panjang, bukan tidak mungkin akan ada penyesuaian harga paket wisata secara bertahap," jelasnya.
Di tengah kenaikan harga BBM, minat masyarakat untuk berwisata disebut masih cukup tinggi.
Hingga memasuki musim libur sekolah tahun 2026, permintaan paket wisata masih berjalan normal.
"Hingga saat ini permintaan masih tergolong normal dan sesuai tren musim liburan sekolah. Masyarakat memang semakin selektif dalam memilih paket wisata dan lebih mempertimbangkan aspek harga serta nilai manfaat, namun minat untuk berwisata tetap tinggi," katanya.
Untuk destinasi favorit, Adi menyebut Bali, Yogyakarta, Lombok, Labuan Bajo, dan Lampung masih menjadi pilihan utama wisatawan domestik.
Di Lampung sendiri, destinasi seperti Pulau Pahawang, Teluk Kiluan, dan Krakatau masih menjadi magnet kunjungan wisatawan.
Sementara untuk perjalanan luar negeri, Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, dan Korea Selatan masih menjadi tujuan favorit karena akses yang mudah serta banyak pilihan paket wisata yang terjangkau.
| Sekdaprov Lampung Ingatkan ASN, BBM Subsidi Bukan Hak Kendaraan Dinas |
|
|---|
| Pertamina Pastikan Stok Biosolar di Lampung Aman dan Penyaluran Sesuai Kuota |
|
|---|
| Andre Keluhkan Sulitnya Mendapatkan Solar di Bandar Lampung |
|
|---|
| Stok Pertalite Cepat Habis di Lampung Tengah, Warga Keluhkan Sulitnya BBM Subsidi |
|
|---|
| SPBU Sultan Agung Akui Antrean Solar hingga 500 Meter dalam Sepekan Terakhir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/lampung/foto/bank/originals/Harga-Pertamax-Naik-Pelaku-Wisata-Lampung-Dampaknya-Masih-Terkendali.jpg)